Seputar Travelling

Kisah Perjalanan 17 Jam

Perjalanan ke Timur Pulau Jawa via Darat

Perjalanan ke arah timur akan dimulai. 800km lebih bisa jadi letih. Mungkin menyenangkan, atau tidak keduanya. Tak ada salahnya kita coba. Inilah kisah perjalananku ke timur Pulau Jawa via darat. Travel Jakarta Surabaya ini kita sebut saja dengan “kisah perjalanan 17 jam”. Bagaimana keseruannya?

Titik Awal Perjalanan 17 Jam

Rasa penasaranku akan sejarah, resep nusantara, serta tempat wisata yang tersembunyi di Surabaya memantik api semangatku melakukan perjalanan ini. Bus malam aku pilih sebagai moda transportasi untuk sampai di Kota Pahlawan. Pahala Kencana adalah bus yang akan kutunggangi. Karena lokasi keberangkatannya, Terminal Kampung Rambutan, tak jauh dari tempatku bekerja. Selain Kampung Rambutan, Terminal Bus Terpadu Pulo Gadung pun bisa kalian pilih untuk lokasi keberangkatan bus ini.

PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)

Bus ku dijadwalkan berangkat pukul 11.30. Jam 11.00 aku sudah tiba di Kampung Rambutan. Bagi yang masih khawatir akan tipu rayu para calo terminal, buang jauh-jauh rasa itu. Karena pembelian tiket untuk bus tersebut kini bisa dilakukan melalui aplikasi Traveloka. Selain melayani pembelian tiket, masih banyak menu lain yang disajikan di portal tersebut. Klik untuk cek jadwal lengkap travel Jakarta Surabaya.

Kenapa Harus Naik Bus?

Sebagai seorang yang langganan dengan transportasi darat, nama Pahala Kencana pastilah tidak asing didengar. Perusahaan Jasa transportasi ini sudah sering melayani rute antar kota, antar provinsi. Bahkan Perusahaan Otobus (PO) lain seperti Titian Mas dan Tiara Mas menyediakan jasa lintas pulau.

Salah satu kawan pernah menceritakan pengalaman perjalanan nya dari Jakarta ke Timur Indonesia via darat.

“Kalau naik bus, nggak sampai 1juta aku udah sampai di Labuan Bajo”

Demikian alasanya memilih perjalanan via darat. Sedang tarif yang dibandrol untuk rute Jakarta-Surabaya sendiri adalah Rp260.000,- untuk kelas eksekutif.

Kesan dengan Bus Jakarta-Surabaya

Hari itu tak banyak waktu yang dihabiskan untuk memulai perjalananku ke Surabaya. Tepat pukul 11.45 Pahala Kencana melaju. Sedari awal aku duduk di kursi bus tersebut, tidak sedikitpun  batinku bergumam, “sempit banget sih tempat kakinya”, “AC nya kok nggak kerasa sih?”, pun hal lain yang acap kali dikeluhkan.

Pahala Kencana adalah jenis big bus kapasitas 59 seat, dengan formasi kursi 2-2. Untuk kelas eksekutif yang aku tunggangi ini terdapat TV LED, toilet, bantal, serta selimut. Tak ketinggalan beberapa tempat sampah pun disediakan. Semua fasilitasnya terkesan pas dan nyaman.

PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)
PO Pahala Kencana (sumber: traveloka.com)

Sesampainya di rest area Cipali, penumpang mendapat fasilitas makan. Sebungkus nasi kotak dengan 2 macam lauk, 1 sayur, dan buah. Porsi yang cukup lengkap untuk sekelas bus lintas provinsi. Selain makan berat, PO Pahala Kencana juga menyediakan snack berupa roti.

Kesan Selama Perjalanan

Bus ini melaju cukup kencang. Tepat ketika matahari terbenam, perjalananku sudah masuk Provinsi Jawa Tengah. Tak sempat kuhitung jumlah kota yang dilewati selama perjalanan ini. Karena alunan musik yang diputar berhasil megantarku tidur. Sesekali kutengok penumpang di samping kananku tengah asyik melempar rindu dengan pujaan hati lewat video call. Kutengok ke luar jendela, ada basahan embun dari air hujan. Ya, Hujan dan rindu memang candu.

Beberapa kali bus ini berhenti karena lampu merah. Terlihat para pengamen berlalu lalang di kaca-kaca mobil yang berjejer. Tak sedikit yang tanpa alas kaki. Banyak pula yang membawa buah hati.

Titik Akhir Perjalanan 17 Jam

17 jam itu pun berakhir di Kenjeran, Surabaya. Sang surya sudah menyapa pagiku di Timur Pulau Jawa. Letih bukan lagi kesan nomor satu yang kudapatkan. Perjalanan ke arah timur via darat nyatanya tidak semenakutkan itu. Pilihan moda transportasi ini rasaya akan menjadi jodohku, melihat banyak hal menarik yang kutemui selama 17 jam tadi.

Dan kini waktunya menjajah Kota Pahlawan! Karena Surabaya ini kota yang dilengkapi dengan wisata sejarah, budaya, kuliner, maupun religi, strategi pertama yang kulakukan adalah menghampiri ibu penjual rujak cingur yang sedari tadi memperhatikanku. Setelah itu Klenteng Dewi Kwam In dan Patung  Budha di tepi laut, Hutan Bambu Taman Sakura, House of Sampoerna, serta Tugu Pahlawan sudah siap menanti kunjunganku.

Tunggu cerita perjalananku selanjutnya!

Rahma (@_raahmaaa)

Walk humbly, talk politely, dress neatly, play atrractively.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *