Museum & SejarahSeni & Budaya

Perahu Asmat Asal Papua

Seperti kita ketahui bahwa Perahu Asmat atau Perahu Lesung sangat terkenal dikalangan masyarakat yang merupakan khas dari Suku Asmat. Perahu Asmat merupakan perahu tradisional yang digunakan masyarakat Suku Asmat sebagai alat transportasi.

Pembuatan Perahu Asmat pun mempunyai ketentuan dan cara unik tersendiri. Ayo disimak guys.

Setiap 5 tahun sekali, Suku Asmat membuat perahu yang dibuat dari bahan cendana, ketapang, bintangur dan satu jenis kayu susu. Bahan-bahannya saja dari bahan-bahan yang alami dan cukup langka, gimana ngga unik coba. Untuk membuat satu perahu, dibutuhkan waktu sekitar 5 minggu. Proses pembuatan dimulai dari memilih batang pohon hingga selesai diukir dan dicat. Setelah pohon dipilih, ditebang, dikupas kulitnya dan diruncingkan kedua bagian ujungnya, maka kayu itu sudah siap dibawa ke tempat pembuatan perahu.

Foto : penabiru.com

Langkah Pertama, batang yang masih kasar dan bengkok diluruskan. Setelah bagian dalam digali, dihaluskan dengan kulit siput, sama halnya dengan bagian luar. Bagian bawah perahu dibakar supaya laju jalan perahu menjadi ringan. Panjang perahu mencapai 15-20 meter. Setelah semua ukiran dibuat di perahu maka perahu pun di cat. Bagian dalam di cat putih, bagian luar di cat putih dan merah. Setelah itu perahu dihiasi dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu harus diresmikan melalui upacara.

Foto : indonesiakaya.com

Ada 2 macam perahu yang biasa digunakan, yaitu perahu milik keluarga yang tidak terlalu besar dan memuat 2-5 orang dengan panjang 4-7 meter. Sedangkan perahu clan biasa memuat antara 20-20 orang dengan panjang 10-20 meter. Sedangkan untuk dayung terbuat dari kayu yang tahan lama, misalnya kayu besi atau kayu pala hutan. Karena perahunya dipakai sambil berdiri, maka dayung orang Asmat sangat panjang ukurannya. Dikarenakan daerah sekitarnya dikelilingi dengan rawa-rawa, Perahu Asmat ini menjadi alat transportasi yang wajib dimiliki oleh setiap Suku Asmat

Foto : indonesiakaya.com

Setelahnya, bagian muka perahu yang disebut dengan cicemen diukir menyerupai burung atau binatang lainnya perlambang pengayau kepala. Atau ukiran dibentuk wujud manusia yang melambangkan saudara yang sudah meninggal. Biasanya, perahu dinamakan sesuai dengan nama saudaranya itu. Panjang perahu bisa mencapai 15-20 meter. Dengan mengukir bentuk dari keluarga yang telah meninggal itu, mereka percaya bahwa saudara tersebut akan senang karena diperhatikan dan kemana pun perahu serta penumpangnya pergi akan selalu dilindungi keselamatannya. Untuk membuat ukiran yang lebih halus, ukiran itu harus dikapur terlebih dulu.

Foto : wikiwand.com

Setelah semua ukiran selesai dibuat, perahu siap untuk di cat. Setelah itu perahu dihias dengan daun sagu. Sebelum dipergunakan, semua perahu baru harus diresmikan dulu. Caranya, para pemilik perahu berkumpul bersama dengan bernyanyi bersama, berkumpul dengan orang-orang yang berpengaruh di kampung itu sambil mendengarkan nyanyi-nyanyian dan penabuhan tifa. Kemudian kembali ke rumah masing-masing mempersiapkan diri untuk perlombaan perahu. Mereka berkumpul di tengah-tengah sungai dan aba-aba perlombaan pun dipekikkan. Kaum wanita dan anak-anak bersorak-sorai memberi semangat dan memeriahkan suasana. Ada juga yang menangis mengenang saudaranya yang telah meninggal.

Mitos Perahu Asmat

Menurut Suku Asmat, ada beberapa hal-hal atau pantangan yang tidak boleh dilanggar oleh mereka, mereka percaya saat membuat kapal, tidak boleh banyak bunyi-bunyian di sekitar saat membikin perahu. Selain itu pula, mereka juga percaya bahwa jika batang kayu itu diinjak sebelum ditarik ke air, maka batang itu akan bertambah berat sehingga tidak bisa dipindahkan.

Sumber teks : id.wikipedia.org

Tags
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *