Home / Blog / Alam & Taman / Backpacker Jakarta Trip Banyuwangi Part 9 Spesial Ijen

Backpacker Jakarta Trip Banyuwangi Part 9 Spesial Ijen

Blue Fire hasil jepretan dari Om wira.depe

Kota Banyuwangi telah menjadi salah satu destinasi wisata bagi para wisatawan. Beragam budaya serta tempat wisata yang menyimpan pesona serta keunikannya tersendiri menyebabkan banyaknya wisatawan yang tertarik dan berkunjung ke Kota Banyuwangi. Maka, pada tanggal 17-18 Desember 2016, Backpacker Jakarta kembali mengadakan trip Banyuwangi part 9.

Pada Trip Banyuwangi part 9 ini, BPJ mengunjungi Pulau Menjangan (Taman Nasional Bali Barat), Pulau Tabuhan, dan Gunung Ijen. Yang akan diulas di sini adalah perjalanan BPJ trip Banyuwangi part 9 edisi Gunung Ijen.

Gunung Ijen merupakan destinasi yang wajib sekali dikunjungi sebab memiliki fenomena langka di dunia. Gunung Ijen merupakan satu dari dua tempat di dunia yang memiliki fenomena alam langka berupa blue fire. Selain di Gunung Ijen, blue fire bisa ditemui di Islandia.

Gunung berapi aktif ini terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Memiliki ketinggian 2.443 mdpl, gunung ini lebih populer dengan sebutan wisata kawahnya. Di balik bahaya yang tersembunyi, Kawah Ijen memiliki pesona yang sangat indah. Danau berwarna hijau kebiruan dengan kabut dan asap belerang yang memesona.

Kawah Ijen merupakan Danau air asam terbesar di dunia dan dikelilingi oleh kaldera terluas di Pulau Jawa. Kawah Ijen masuk ke dalam wilayah Cagar Alam Taman Wisata Ijen. Setiap dini hari sekitar pukul 02.00 hingga 04.00, fenomena blue fire yang menjadi keunikan dari tempat ini akan muncul di sekitar kawah.

Sekitar pukul 23.00, rombongan BPJ tiba di Paltuding untuk bersiap melakukan trekking wisata Kawah Ijen. Paltuding merupakan gerbang utama wisata Kawah Ijen yang juga merupakan Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam).

Pada pukul 01.30 dini hari dimulailah briefing singkat dari para guide lokal yang akan membimbing perjalanan. Trekking memakan waktu sekitar 2 jam dengan trek yang menanjak dan memiliki kemiringan sekitar 25-35 derajat serta struktur tanah yang berpasir. Di tengah perjalanan, kita tiba di Pos Bundar, sebuah tempat yang bisa dijadikan tempat beristirahat sejenak. Saat pagi hari, Pos Bundar akan berubah menjadi sebuah warung yang ramai wisatawan. Setelah Pos bundar, jalur selanjutnya cukup landai dan akan menyuguhkan panorama jajaran pegunungan serta hijaunya alam sekitar saat matahari mulai muncul. Tiba di puncak, kita harus turun melalui jalur batuan terjal untuk menuju kawah menyaksikan blue fire dan para penambang yang bekerja dari dekat.

Saat berada di Pulau Manjangan Bali

Di balik melimpahnya pesona yang ditawarkan dari Gunung Ijen, ada hal yang juga menarik perhatian para wisatawan. Para penambang belerang Kawah Ijen yang bertaruh nyawa demi rupiah. Dengan berbalut jaket tipis, tanpa masker dan juga sarung tangan. Di kawah dengan kadar asap beracun yang mencapai lebih dari 40 kali batas aman pernafasan ini mereka menambang bongkahan demi bongkahan untuk dijadikan lembaran rupiah. Setelah belerang cukup terkumpul, dengan memanggul keranjang bambu berisi sekitar 70 kg belerang bahkan lebih, mereka meniti kembali jalur ekstrim yang tidak mudah terlebih dengan beban berat. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat dan menahan pegal serta punggung yang menebal akibat beban berat. Di sini, para wisatawan harus mendahulukan jalan bagi para penambang yang naik atau pun turun.

Salah satu penambang di Kawah Gunung Ijen

Jika kalian berkunjung ke Gunung Ijen, jangan ragu untuk menyewa masker dan membeli souvenir yang terbuat dari belerang, serta menggunakan beragam jasa para penambang untuk sekadar menambah sedikit penghasilan mereka. Tidak ada salahnya juga untuk menggunakan penduduk lokal sebagai guide dengan tarif sekitar Rp 150.000. Di sini para penambang juga dengan kreatifnya menggunakan gerobak sebagai kendaraan “taksi” untuk mengangkut wisatawan yang tidak kuat naik atau pun turun gunung dengan tarif Rp 150.000 sekali jalan.

Trip Kawah Ijen BPJ kali ini cukup hectic dengan serangan kabut asap belerang yang tebal dan pekat. Saat tiba di kawah dan tengah menyaksikan fenomena langka blue fire, kabut tebal dengan gas belerang tiba-tiba muncul dan menyerang, menyebabkan para wisatawan berhamburan menyelamatkan diri masing-masing dengan berusaha naik kembali ke puncak kaldera. Jarak pandang yang terbatas serta usaha mengatur pernafasan dari asap belerang yang tebal menjadi sebuah upaya mendapatkan fenomena alam yang langka.

Saat itu kondisi yang bisa dilihat hanyalah kabut dan asap tebal memenuhi seluruh wilayah Kawah Gunung Ijen. Tidak ada panorama kawah hijau kebiruan atau pun hamparan kaldera yang membentang. Seluruhnya tertutup kabut asap tebal hingga para wisatawan kembali turun ke Paltuding di temani oleh rintik hujan yang sesekali turun.

Meski di trip Banyuwangi part 9 edisi Kawah Ijen kali ini tidak mendapatkan hasil foto-foto dan panorama yang diharapkan, namun tetap memberikan kesan dan pelajaran berharga bagi setiap peserta. Kekeluargaan yang membuat nyaman serta pelajaran berharga dari para penambang belerang sudah cukup memberi kesan baru bagi trip kali ini.

Trip Banyuwangi part 9 ini diikuti oleh sekitar 65 orang peserta dengan sharecost sebesar Rp 480.000 per orang. Bersama cepe-cepe keren, yang diantaranya Aga, Selly, Edi, dan Galih, trip Banyuwangi part 9 ini berjalan dengan lancar, seru, dan pastinya selamat dengan rasa kekeluargaan yang akan selalu terkenang.

About Feti Habsari

Check Also

Wajib Tahu, 10 Taman Terbaik di Jakarta

Sebagai Ibu kota, Jakarta merupakan daerah yang padat penduduk lengkap dengan segala aktivitas yang membuat …