Uncategorized

Backpacker Jakarta, Komunitas Travelling Yang Membuatku Jatuh Cinta

I'm Proud Being Part Of Backpacker Jakarta's Journalist

” Ini hanyalah sebuah kisah yang menceritakan perjalananku selama bergabung di Backpacker Jakarta. Suatu komunitas travelling yang menurutku sangat terorganisir dan memiliki kredibilitas jauh dibanding komunitas lainnya. Kalau kau tertarik, silakan dibaca. Barangkali kita memiliki cerita yang sama. Tapi, kalau kau tak berminat pun tak apa. Dan inilah kisahku. Yang kupersembahkan dalam rangka 5 tahun berdirinya Backpacker Jakarta. ” – Rizky Amalia, 23 Tahun, Tim Penulis Website Backpacker Jakarta.

Selayang Pandang

Juli, 2017

Waktu itu adalah tanggal 19 Juli 2017. Aku masih menjadi seorang organisatoris yang sedang kehilangan rumahnya. Sebab, aku tak punya banyak kesibukan seperti saat dulu aku menjabat sebagai pengurus di organisasi lamaku, yaitu sebagai Ketua Umum UKM Seni Budaya STEI.
Aku suka travelling sendiri, tapi saat itu aku ingin sekali pergi jalan-jalan beramai-ramai ditengah aktivitasku yang membosankan. Kuketik “backpacker” di Instagram, yang muncul akun @backpackerjakarta. Followers nya waktu itu udah lumayan banyak, diatas 15 ribu-an. Iseng-iseng, aku follow aja sambil kepoin foto-foto di Instagramnya.

Setelah kepoin Instagramnya dari paling bawah sampe atas, Akupun sudah dapat menyimpulkan. Oh, jadi Backpacker Jakarta ini semacem komunitas yang teknisnya menggunakan sistem sharecost atau patungan. Wah, boleh juga nih ikutan. Lumayan, daripada jalan-jalan sendiri, lebih mahal budgetnya. Mending gabung sama orang lain. Yap, setidaknya begitulah yang ada dalam pikiranku. Walaupun kenyataannya Backpacker Jakarta lebih besar dari yang kubayangkan. Yap, hal ini terlihat karena Backpacker Jakarta juga memiliki beberapa Klub Minat Bakat yang membebaskan siapapun bergabung di dalamnya.

Akhirnya, akupun memutuskan untuk menghubungi kontak yang ada di bio instagram untuk mendaftar sebagai member. Dan orang itu adalah Emye, atau Edi Muhammad Yamin yang sekarang aku panggil Omed. Dalam waktu 5 menit, Omed menginviteku ke dalam grup RT 30 yang digawangi oleh Nona Indah sebagai Bu RT, Yusuf sebagai Pak RT.

For Your Information

Ohya, aku perlu jelasin gak ya ? Jadi buat kamu yang belum tau Backpacker Jakarta, dan istilah-istilahnya seperti RT, Bu RT, dan Pak RT. Sebenernya gini, Backpacker Jakarta itu memiliki member yang jumlahnya ribuan. Tapi, berhubung grup whatsapp itu kapasitasnya cuma 256 member. Mungkin biar lebih terorganisir, dibuatlah beberapa grup yang masing-masing isinya 100 member di grup 1 atau disebut RT 1, 100 member lagi di grup 2 atau disebut Rt 2, dan seterusnya yang hingga saat ini jumlahnya sudah 34 grup alias RT 34. Sedangkan Pak RT atau Bu RT berarti Admin yang menggawanginya.

Oke balik lagi ke perjalananku. Setelah aku bergabung dalam RT 30, aku merasa banyak perubahan dalam hidupku. Handphoneku selalu berdering setiap detik dan itu tidak pernah berhenti dari pagi hingga malam. Celotehan sana-sini dari yang berfaedah hingga tak berfaedah memenuhi handphone ku yang sesekali ngelag. Tapi, aku bawa happy. Beberapa kali aku menghadiri kopdar dan meet up yang diadakan oleh grup RT. Sampai sekitar 1 bulan aku di RT 30. Aku merasa sedikit kurang nyaman dengan lingkungan yang itu-itu aja dan kurang memberikan manfaat dalam diriku.

Tim Penulis Website Mengubah Semuanya

Hahaha. Yaps, begitulah yang aku rasakan. Akhirnyaaaaaa gengs, bulan Agustus awal aku mendaftarkan diri menjadi member di Tim Penulis Website Backpacker Jakarta yang digawangi oleh Mamak Febe dan Om Shoim. Dan sejak saat itulah, aku merasa banyak perubahan besar dalam diriku. Tim Penulis Website sendiri adalah grup official Backpacker Jakarta yang sifatnya independent. Bukan grup RT, dan juga bukan Klub minat bakat. Tapi, semacem redaksi atau jurnalisnya Backpacker Jakarta. Dan aku sangat betah berada didalamnya.

Dari kiri : Om Shoim, Mamak Febe, Omed

Setelah tergabung menjadi member Tim Penulis Website, aku menyetor tulisan pertamaku yang berjudulΒ Taman Nasional Wakatobi, Salah Satu Surga Bawah Laut Indonesia Yang Mendunia. Wah, aku gugup banget, sebab aku belum pede dengan tulisanku. Apalagi banyak typotypo nya. Tapi, Mamak Febe dengan sabar membantu mengedit dan merevisi tulisanku. Hingga dari situ, aku banyak menemukan pelajaran-pelajaran yang kujadikan evaluasi untuk aku menulis artikel berikutnya.

Semangat Yang Membara

Satu tulisan selesai. Yessss! Seneng deh rasanya. Aku semakin termotivasi untuk terus menulis. Mamak Febe selalu menyemangati dan memberi masukan mengenai kelebihan dan kekurangan tulisanku. Mungkin bagi orang yang baper, itu adalah sebuah koreksi yang menyebalkan, tapi bagiku itu adalah kritik dan masukan yang sangat membangun. Dan aku senang sekali ada yang mengoreksi tulisanku, karena itu tandanya ada orang yang mau memperhatikan tulisanku. Padahal, selama ini tulisanku tak pernah dibaca orang.

Hari-hari berganti. Aku semakin bersemangat memainkan jemariku untuk mengeksplore Indonesia lewat ketikan keyboard. Satu, dua, tiga, empat, limaΒ  Aku merasa ada banyak perubahan dalam tulisanku. Dari yang awalnya cuma menulis 1 artikel berantakan, kini aku sudah menulis 105 artikel bertema provinsi dan review yang tak perlu lagi menunggu Mamak Febe revisi. Alias, Mamak Febe sudah memberikanku kepercayaan untuk mempublikasikan tulisanku sendiri. Tapi, bukan berarti aku dilepas gitu aja, sebab Mamak Febe selalu ada belakang memonitor setiap tulisan yang aku publikasikan. Hem.. She’s so inspiring me.

Backpacker Jakarta I5timewa !

Dan sekarang, aku cuma mau bilang. Selamat hari jadi yang ke 5 tahun untuk Backpacker Jakarta. Terimakasih sudah menjadi komunitas kece yang mampu memberikan pengaruh baik dalam kehidupanku. Dulu sebelum aku bergabung disini, boro-boro aku nemu orang yang mau baca tulisanku. Dipercaya aja enggak. Tapi disini, justru setiap tulisanku selalu dibaca oleh ratusan orang, bahkan ribuan orang. Tak jarang artikelku duduk nangkring di trending article selama berhari-hari, bahkan pernah sampai ada yang berminggu-minggu. Dan ini adalah pencapaian yang sangat berarti dalam kehidupanku.

Terimakasih juga, sudah mempercayaiku menjadi CP ODT beberapa bulan lalu. Itu adalah pengalaman berharga yang belum tentu bisa aku dapatkan di luar sana. Terimakasiih lagi, telah menjadi perantara Tuhan yang membawaku ke Tanah Flores. Dulu, Flores hanyalah impianku karena budgetnya yang terkenal mahal dan aku tak tau harus mengumpulkan uang berapa lama. Tapi sekarang, semua destinasi impianku ternyata tak semahal itu jika kulabuhkan mimpiku di komunitas ini. Terimakasih juga Omed, yang telah memberikanku kesempatan untuk membantu menjadi CP dadakan Trip Explore Flores Part 7, hingga akhirnya aku bisa menikmati keindahan Flores lebih lama dari yang seharusnya.

The Last But Not Least

Aku harap, Backpacker Jakarta bisa terus eksis dalam dunia travelling. Serta membantu mewujudkan mimpi-mimpi anak sepertiku yang ingin mengarungi Indonesia tanpa harus merogoh kocrek mahal seperti open trip. Aku juga berharap, Backpacker Jakarta bisa menjadi komunitas yang selalu peduli dengan sesama. Baksosnya terus dijalankan, travellingnya tak pernah berhenti, silaturahminya jalan terus, manajemennya semakin bagus, dan menjadi komunitas travelling nomor satu di Tanah Air.

 

Terimakasih Backpacker Jakarta, bangga bisa menjadi Penulis sekaligus Jurnalismu.

Find my article on :

www.backpackerjakarta.com/author/rizkyamalia

Tags

kikyamaleader

Nama saya Rizky Amalia. Seorang Accountant sekaligus Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang hobby menceritakan indahnya Indonesia melalui goresan pena. Bagiku, menulis adalah cara untuk melukiskan pikiran, perasaan, serta gairah jiwa. Hingga pada akhirnya, tulisan-tulisan itulah yang akan menceritakan kembali siapa aku dan bagaimana aku melintas di bumi ini.

Related Articles

10 thoughts on “Backpacker Jakarta, Komunitas Travelling Yang Membuatku Jatuh Cinta”

  1. Untuk membuat tulisan travelling harus travelling yg kita lakuin sendiri atau ambil data dari media lain? Aku tertarik sebenernya join klub website, tp udah jarang trip. Ada syaratnya gak?

    1. nggak harus kok kak. kalo di website bpj bebas mau nulis apa selagi temanya masih ada kaitannya ttg travelling. nggak harus perjalanan pribadi, boleh juga re write tulisan ttg tempat yang blm kita kunjungi asalkan dicantumkan sumber referensinya. dan tetep pakai tulisan sendiri.
      syaratnya gak ada kok, langsung daftar aja ke ka febe atau shoim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *