Gunung

Pendakian Gunung Sumbing Via Garung !! Part #3

Tatkala semua angan dibanjiri harap yang terangkai begitu tinggi mendadak terjun bebas dalam sekejap. Dengan segala keterpaksaan merelakan dan melepas pergi sesuatu yang dirindui. Ya, ketika hati dirundung pilu, melakukan suatu perjalanan menjadi mekanisme kerja tubuh paling ampuh dalam mengobatinya. Kenapa ? Karena perjalanan membuat kita belajar tentang pentingnya bersiap menghadapi segala hal akan ketidakpastian. Cuaca yang kerapkali berubah dengan seketika membuat kita harus siap siaga. Hal itu juga yang kami rasakan ketika ingin melakukan pendakian untuk menggapai atap Gunung Sumbing.

Pada hari Jumat, 03 Maret 2017 kami yang berjumlahkan 28 peserta berkumpul di Sekretariat BackpackerJakarta untuk melakukan perjalanan ke Gunung Sumbing. Perjalanan kami kali ini di pimpin oleh Apri dan Yusuf, dengan biaya sharecost sebesar Rp295.000,-/orang.

Sesuai hasrat kerinduan pada ketinggian, kami berangkat menggunakan bus untuk menuju Basecamp Sumbing Via Garung jam 21:43, sempat ada kendala jam 08:17 ketika bus mengalami kerusakan di bagian kopling di pertigaan Ajibarang yang memperlambat perjalanan kami. Dan akhirnya pukul 13:37 sampailah kami di lokasi setelah memutari Wonosobo kota dan Kledung pass.

Sesampainya di Basecamp Sumbing dengan suasana yang masih sepi, terlihat dari sisi luar jendela. Saya tidak menyangka Gunung menjulang tinggi yang saya lihat dari bawah ini beberapa menit yang akan datang nantinya akan menjadi tempat pendakian kami. Sebelum melakukan pendakian menuju atap Gunung Sumbing, kami pun melakukan briefing singkat dan doa bersama agar pendakian berlangsung dengan aman dan selamat tanpa kurang suatu apapun.

Waktu menunjukkan jam 15:25 serta awan gelap pertanda akan turun hujan mengiringi langkah awal pendakian kami. Dari Basecamp menuju Pos 1 KM III Malim dapat ditempuh dengan 2 pilihan, pertama dengan berjalan kaki sekitar 90 s/d 120 menit atau dengan menaiki ojek dengan membayar Rp25.000,-/orang dengan waktu tempuh 10 s/d 15 menit, track yang dilewati menggunakan jasa ojek pun begitu menegangkan.

Setelah semua pendaki berkumpul di Pos I KM III Malim jam 15:54, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan beriringan, saling menjaga satu sama lain melewati  tanjakan dengan  membawa tas keril berisi peralatan mendaki yang beratnya lumayan menjemukan punggung untuk beberapa jam kedepan. Berdialog dengan alam kerapkali membuat saya harus berhati-hati melangkah dengan apa yang akan menghadang di depan mata. Entah bibir jurang, tanjakan terjal, jalan berkubang ataupun jalanan datar membentang luas menjadi tantangan tersendiri dalam sepenggal perjalanan. Tak terasa sampailah kami di Pencit Engkrak dengan ketinggian 2131 Mdpl sekitar jam 16:50, kami pun sejenak melepas dahaga yang mencengkram kerongkongan sebelum menginjakkan kaki di Pos 2 KM IV Genus pada jam 17:15.

Hingga akhirnya menjelang malam tepatnya pada jam 17:35 kami sampai di Engkol-engkolan, tanjakan yang terkenal dengan sudut kemiringan hampir 60 derajat ini harus kami lalui, sudah tidak ada kesempatan mundur saat ini. Yang perlu kami lakukan hanyalah terus naik ke atas menyelesaikan apa yg telah kami mulai meski langkah kami tegopoh-gopoh. Memandang keatas membuat keringat dingin keluar lebih deras gemetar lebih hebat. Imajinasi negatif kerap hadir di sela-sela peluh. Namun saya bertekad ini bukanlah tentang menaklukan tanjakan terjal di Gunung Sumbing namun lebih dari itu. Menaklukan diri sendiri dari rasa takut itulah yg lebih utama.

Sekitar jam 19:00 kami sampai di Pos 3 KM V  Sedelupak Roto, berjalan sedikit keatas tepatnya di Camp Area 3 kami berkumpul dan mulai sibuk merangkai  frame menjadi satu-kesatuan tenda yang berdiri kokoh dengan bantuan penerangan headlamp masing-masing. Sebagian yang lain mulai mengolah masakan dari logistik yang kami bawa.  Gelap menyelimuti malam yang dingin, sedangkan kami diterangi cahaya lampu senter mulai menyantap makanan yang sudah matang. Malam yang kami lewati waktu itu cerah, bulan tampak begitu cekung. Bintang gemintang berkedip seperti hendak memberikan isyarat agar kami beristirahat.

Pukul tiga pagi kami pun mempersiapkan diri untuk summit puncak Gunung Sumbing. Hingga akhirnya sekitar jam 07:30 pagi, kedua kaki yang masih bergetar di luar kontrol menginjak puncak  cakrawala 3371 Mdpl pada gunung tersebut. Sujud kulakukan, entah berapa kali lantunan doa mengiringi pegerakanku dari  sisi puncak satu ke sisi puncak lainnya. Cukup memakan waktu lama sekedar duduk-duduk santai sambil tersenyum lucu membayangkan perjalanan menanjaki gunung tadi. Menikmati pagi indah di puncak gunung ini menjadikan ia berbeda dengan pagi yang pernah saya nikmati sebelumnya. Bagaimana tidak, pemandangan di atas dilengkapi dengan lautan awan bak taman kapas. Lalu kamu dapat melihat aktivitas kota Wonosobo dan sekitarnya bak miniatur. Dan kembalilah kami ke Basecamp berjalan menuruni jalur yang mulai berkabut.

Sesampainya kami di area camp, aroma makanan yang disajikan oleh seorang cp yang merelakan diri untuk tinggal di tenda dan menyiapkan sarapan membuat kami langsung menyerbu masakan yang telah masak tersebut. Tanpa rasa canggung, semua masakan habis tanpa sisa demi mengembalikan sisa tenaga yang hanya tinggal diujung kepala. Setelah tenaga kembali terisi, kami merapihkan tenda dan bersiap siap turun kembali ke Basecamp tanpa lupa membawa sampah hasil perbuatan kami.

Inilah pertemuan yang melahirkan banyak pertemanan. Ya, pertemuan kami ini merupakan jembatan dalam memaknai perjalanan hidup.

Tags

Guntur agung

Aku hanya seorang anak kampung kelahiran Purworejo, 12 Januari 1995. Tumbuh besar dengan adat budaya Kota Solo yang sedang mencoba memperpanjang nama sekaligus mengais rejeki di tanah rantau, Jakarta. Aku adalah orang yang tidak akan mengingat hari, tetapi yang kuingat adalah momen penting dan berkesan sehingga bisa ku curahkan dalam tulisan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close