Liputan Trip

Mengexplore Serta Mengenang Kembali Sejarah Kota Banda Aceh dan Pulau Sabang

Trip Explore Aceh - Sabang Part #2

Rangkuman

Beberapa waktu lalu, Backpacker Jakarta (BPJ) kembali mengunjungi Provinsi Aceh (Kota Banda Aceh dan Pulau Sabang) untuk yang kedua kalinya. Trip eksplorasi dua kota yang dimotori oleh duo CP, yaitu Om Eka dan Kak Shinta ini diikuti oleh sejumlah 28 peserta, baik member maupun non member BPJ pada tanggal 14 hingga 16 Juli 2018.

Foto bersama di pantai Lampuk

Sama seperti trip perdana, selama 3 hari para peserta berkesempatan mengunjungi sebagian spot-spot keren dari wilayah yang terkenal karena Serambi Mekah-nya ini, antara lain Masjid Raya Baiturrahman, Museum Kapal PLTD Apung, Kapal Lampulo, Pantai Lampuuk, dan Museum Tsunami di Kota Banda Aceh, serta Tugu I Love Sabang, Tugu Nol Kilometer, Pantai Iboih, Pantai Goa Sarang, Pulau Rubiah, dan Bunker Jepang di Pulau Sabang.

Kegiatan hari pertama dimulai dari meeting point di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh sebagai titik awal perjalanan untuk selanjutnya menuju Makam Massal Siron, Kapal Lampulo, Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami, Museum Kapal PLTD Apung, hingga Pantai Lampuuk saat matahari terbenam.

Kapal PLTD Apung

Pada hari kedua, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Sabang menggunakan kapal cepat selama lebih kurang 45 menit dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan. Tempat yang dikunjungi antara lain Tugu I Love Sabang, Pantai Sumur Tiga, Bunker Jepang, Pantai Goa Sarang, dan diakhiri pada sore harinya di Tugu Nol Kilometer.

Tepian laut Pantai Iboih

Terakhir, pada hari ketiga kunjungan dilanjutkan ke Pulau Rubiah yang berada tepat di seberang Pantai Iboih untuk kegiatan snorkling dan diving keindahan laut sekitar pantai. Tidak lupa selama perjalanan kami menikmati aneka kuliner khas Aceh, seperti Mie dan Nasi Goreng Aceh, Ayam Tangkap, Teh Tarik, Kopi Aceh, kue lokal dan lain sebagainya, baik pada pagi, siang, maupun malam hari.

BAGIAN 1 : BANDA ACEH

Aceh dan Tsunami 2004
Berkunjung ke Aceh terasa sangat spesial karena kita dapat mengingat sejenak tentang peristiwa bersejarah, yaitu musibah Tsunami pada tanggal 26 Desember 2004. Di awal perjalanankami singgah di Makam Massal Siron yang berisikan 46 ribu lebih jenazah korban tsunami yang dikuburkan dalam satu areal pemakaman yang relatif luas. Lokasinya berada 50 meter dari pinggir jalan raya, tepatnya di Jalan Bandara Sultan Iskandar Muda, Kecamatan Ingin Jaya, Lamparo, Aceh Besar. Tidak lupa kami turut mendoakan para jenazah korbandi lokasi kuburan massal terbesar di Aceh tersebut. Satu lagi sebenarnya ada Kuburan Massal Ulee Lheue, yang sesuai namanya berada di Desa Ulee Lheue, dekat dengan pelabuhan namun tidak sempat kami datangi.

Makam massal siron

Musibah Tsunami Aceh didokumentasikan dengan cukup baik, terbukti dengan adanya deskripsi baik berupa cerita, foto, dan video sebelum, saat, dan setelah kejadian tsunami yang meluluhlantakan kota Banda Aceh dan sekitarnya pada waktu itu, mulai dari Museum Tsunami, Situs Kapal Lampulo, Museum Kapal PLTD Apung, maupun situs-situs sejarah lainnya.

Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami dibangun secara simbolis sebagai pusat informasi untuk mengenang peristiwa Tsunami dan dibuka sejak tahun 2009. Isinya tentu saja lengkap menceritakan segala hal tentang Tsunami dan Banda Aceh. Kapal PLTD Apung menjadi saksi bisu bagaimana limpahan ombak mampu menyeret kapal seberat 26 ton ini ke tengah kota sejauh lebih dari 5 km. Sekarang kapal ini difungsikan menjadi museum setelah sebelumnya diambil bagian mesin dan beberapa komponen lainnya. Sebuah kapal kayu juga terbawa ke daratan penuh pemukiman penduduk dan mendarat di salah satu rumah warga di Gampong Lampulo sehingga dinamakan Situs Kapal Lampulo. Selain itu, beberapa masjid dengan karunia Tuhan masih berdiri kokoh, di dalamnya foto-foto sebelum dan akibat tsunami juga jelas dipampang.

Spesialnya juga, kami bertemu salah satu saksi mata (Bapak Sulaiman) yang terseret ombak sejauh 3 km dari kampungnya dekat Masjid Rahmatullah ke perbukitan di dekatnya. Beliau menceritakan langsung peristiwa saat tsunami berlangsung ketika para warga sedang menyiapkan kenduri pernikahan di kampungnya pada minggu pagi saat kejadian. Walaupun terbawa gelombang bersama dengan reruntuhan bangunan, kayu, kendaraan dan sebagainya, beliau berhasil selamat, namun sayangnya tidak dengan istri dan beberapa anaknya.

Smong, hikayat tentang sebuah ombak besar
Alkisah, secara turun temurun masyarakat Pulau Simeuleu, Provinsi Aceh mempercayai sebuah musibah ombak yang naik ke daratan secara tiba-tiba dalam jumlah besar yang kita kenal sebagai Tsunami dan cara menghadapinya, yaitu dengan naik ke daratan tinggi. Faktanya, pada saat musibah berlangsung dari sekian banyak orang di Simeuleu (yang juga terkena efek terbesar tsunami) hanya 7 orang meninggal. Dari peristiwa ini, mereka mendapatkan penghargaan dan pengakuan level dunia.

Berbeda dengan wilayah di pulau besar Sumatera (Aceh dan sekitarnya), akibat kurangnya pemahaman pada saat itu, ditambah dengan suasana khas perkotaan yang sangat ramai maka terjadinya tsunami menelan korban tercatat tidak kurang dari 146 ribu orang meninggal, dan 95 ribu orang hilang.

Eksotisme Aceh dalam balutan religi dan wisata
Dari sisi wisatanya, Banda Aceh dikenal karena perpaduan antara sejarah, kebudayaan, dan alamnya yang memesona. Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu lokasi yang wajib didatangi ketika berkunjung ke Aceh. Masjid dengan 1 kubah utama, 4 kubah pendamping, 1 menara utama, 2 menara pendukung, serta 12 payung pelindung panas ini kokoh berdiri di jantung ibukota, mengundang siapapun untuk berkunjung.

Sebagaimana diketahui, syariat islam mulai diterapkan sejak beberapa tahun lalu sehingga untuk beberapa aktivitas dibatasi oleh norma pergaulan dan kesantunan. Namun hal ini menjadi menarik dan sangat bermanfaat karena pola kehidupan di Aceh menjadi sangat tertata dan teratur, namun tetap dibalut dengan toleransi dan kehidupan sosial yang harmonis.

BAGIAN 2 : PULAU SABANG

Pulau Sabang, gerbang barat Indonesia

Tugu I Love Sabang

Pulau Sabang sebagai salah satu bagian gugusan pulau di utara Provinsi Aceh menyimpan kekayaan wisata alam dan sejarah yang cukup terkenal. Pulau Rubiah yang termasuk wilayah dari Kota Sabang sendiri menurut cerita adalah lokasi transit jemaah haji jaman dahulu yang berangkatnya masih menggunakan transportasi kapal laut. Di sana terdapat semacam asrama haji tempat calon jemaah haji melakukan manasik.

Snorkeling di Pulau Rubiah

Dari sisi wisata, tempat yang cukup terkenal adalah Pantai Iboih (dibaca Iboh dalam bahasa lokal), sebuah pantai kecil di teupin layeu (tepian laut) Teluk Sabang.

Pantai Iboih

Ada pula Tugu Nol Kilometer Indonesia di ujung barat laut pulau sebagai patok penanda kilometer nol dari barat Indonesia. Walaupun bagian paling barat Indonesia adalah Pulau Breueh (bahasa Indonesianya: beras), tapi tugu nol kilometer dibangun di Pulau Sabang mengingat lokasinya yang lebih cocok disamping gugusan pulau-pulau sekitarnya (Pulau Breueh, Nasi, Teunom, Bunta, dll.)

Tugu Nol Kilometer

Di pulau ini juga terdapat banyak lokasi menarik lain dengan pemandangan menawan yang kami datangi, diantaranya:
1. Tugu I Love Sabang serta view point Danau Aneuk Laot dan laut utara Sabang
2. Bunker Jepang, bekas sisa benteng Jepang pada masa penjajahan Indonesia
3. Pantai Sumur Tiga dan Ujong Karaeng (ujung karang)
4. Pantai Anoi Hitam, pantai dengan kandungan pasirnya yang cenderung berwarna hitam
5. Pantai Goa Sarang dengan kompleks bebatuan alami dan view atas bukit yang indah

View Point Balohan

Provinsi Aceh dan perkembangannya kini
Jika menarik ke belakang kisah terdahulu, kini Aceh telah tumbuh kembali menjadi wilayah yang maju dengan pembenahan dari semua sisi, termasuk pariwisatanya. Dari kemandirian lokal ditambah bantuan dari negara-negara luar, Aceh kemudian telah tumbuh dan berkembang menjadi salah satu wilayah yang dipandang penting bagi negara. Tsunami walaupun telah meninggalkan bekas luka yang dalam, namun bagi sebagian orang dapat dipandang jadi awal kebangkitan kembali semangat Aceh sebagai gerbang di bagian barat Indonesia sebagaimana matahari tenggelam untuk kemudian terbit kembali.

Kesan dan Pesan Trip
Secara umum, trip berjalan cukup lancar karena didukung oleh cuaca yang cerah dan kompaknya seluruh peserta sehingga semakin menambah suasana yang seru selama di perjalanan dan kepuasan para peserta. Selain itu, semua keindahan dan keunikan yang ada disana membuat Anda harus mencobanya. Anda berminat?

Author: Ardiansyah, Member of BPJ #5
Tags

admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Instagram : @backpackerjakarta Twitter : @official_bpj Facebook : www.facebook.com/groups/backpackerjakarta Group Wa : 089507622003

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close