Liputan Trip

Liputan Trip Dieng Part #10

Jobs fill your pocket, adventures fill your soul

Dieng Plateau atau lebih dikenal dengan Dataran Tinggi Dieng, kembali mencuri perhatian kami dari komunitas Backpacker Jakarta untuk mengadakan trip mengeksplore kawasan Dieng. Oh iya, ini udah yang ke 10 kalinya lhoh. Berada pada ketinggian 2093 mdpl, dan di apit oleh dua kabupaten yaitu Banjarnegara dan Wonosobo, lokasi wisata ini bisa dikatakan seperti besi magnet, karena dengan cepat menarik wisatawan dari lokal hingga mancanegara.

By the way, trip Dieng part #10 berjalan pada tanggal 24-25 Agustus 2019 karena dikenal dengan suhu dinginnya yang bisa mencapai 12-20 derajat di siang hari, dan 6-10 derajat di malam hari. Perjalanan kali ini saya (Emma) mendapat kesempatan duet CP bersama Ka Odie, dengan biaya sharecost sebesar Rp405.248 untuk member BPJ, dan Rp425.248 untuk non member BPJ.

Perjalanan diawali dengan berkumpulnya para peserta yang berjumlah 34 peserta di meeting poin yang sudah ditentukan yakni parkiran RS UKI Cawang pada pukul 20.00. Tepat pukul 20.30, kami mulai meninggalkan Jakarta dan menuju Dieng menggunakan dua elf. Sepanjang perjalanan, kami sempat terhambat kemacetan di tol Cikampek, beberapa kali berhenti untuk istirahat dan sholat hingga akhirnya tiba di desa wisata Dieng pada pukul 08.30 pagi. Kami beristirahat sejenak merapikan barang bawaan di homestay, sarapan, lalu mulai bergegas mengeksplore wisata di hari pertama dengan tujuan Savana Pangonan yang terletak tidak jauh dari homestay tempat kami menginap.

Savana Pangonan, padang tersembunyi di Lembah Semurup

Savana Pangonan merupakan salah satu wisata tersembunyi di Dieng yang berada di Lembah Semurup, Bukit Pangonan. Wisata ini tergolong baru, yang dikelola oleh pemerintah setempat berupa padang luas dengan rerumputan yang menguning, dan cenderung coklat akibat musim kemarau, namun tidak mengurangi kecantikan dari pemandangannya. Trek menuju Savana Pangonan sedikit menguras tenaga, ditambah dengan jalur yang berdebu, sehingga disarankan untuk membawa masker jika ingin berkunjung kesana di musim kemarau. Setelah puas berpotret ria, kami beranjak untuk melanjutkan perjalanan menuju destinasi kedua yakni Telaga Warna.

Telaga Warna, gradasi warna alam yang memukau

Sekitar pukul 12.30 kami tiba di parkiran wisata Telaga Warna. Sejenak kami istirahat dan makan siang dengan menu mie ongklok khas dari Wonosobo yang berupa mie rebus dan dibuat dengan menggunakan kol, potongan daun kucai, kuah kental berkanji, serta tambahan sate. Setelah perut terisi, kami lanjut berkumpul di gerbang wisata Telaga Warna pada pukul 13.30.

Telaga Warna merupakan salah satu wisata andalan di Dieng. Berupa danau dengan warna indah sesuai namanya yang berubah-ubah terkadang airnya berwarna hijau, kuning, baru ataupun berwarna-warni bak pelangi. Secara ilmiah ini dijelaskan sebagai akibat dari kandungan sulfur yang tinggi pada air danau sehingga ketika disinari matahari kandungan sulfur tersebut akan memantulkan warna bervariasi. Keindahan Telaga Warna terlihat semakin eksotis karena dikelilingi oleh perbukitan hijau yang memanjakan mata. Untuk dapat menikmati pemandangan ini, kami hanya membayar tiket sebesar Rp15.000/orang.

Kompleks Candi Arjuna, kompleks candi terluas di Dieng

Usai memanjakan mata di telaga warna, kami melanjutkan perjalanan menuju destinasi ke tiga yakni Kompleks Candi Arjuna. Kompleks Candi Arjuna merupakan komplek candi Hindu yang terletak di Desa Dieng Kulon yang terdiri dari Candi Arjuna, Srikandi, Puntadewa, Sembadra dan Candi Semar. Komplek candi ini biasanya dijadikan tempat pelaksanaan galungan dan terkadang juga digunakan untuk prosesi ruwatan anak gimbal (acara dimana anak gimbal akan dimandikan dengan air yang berasal tujuh sumber, diarak, hingga dilempari beras kuning dan uang koin, kemudian dipotong rambut gimbalnya oleh pemuka adat sebelum dibuang ke Telaga Warna).

Saat kami berkunjung, kompleks Candi Arjuna sedang padat pengunjung, sehingga agak sulit untuk mengabadikan keindahan candi tanpa bocor (istilah yang digunakan para pemotret untuk penghalang seperti pengunjung lain yang berlalu lalang di objek foto). Suasana sore yang cerah di kompleks Candi Arjuna membuat kami betah berlama-lama. Pukul 17.00 kami kembali ke homestay untuk membersihkan diri dan beristirahat, serta mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan di hari kedua.

Sekitar pukul 19.00 kami berkumpul di homestay untuk santap makan malam berupa nasi goreng dengan telur dan ayam goreng. Kemudian dilanjutkan dengan sesi perkenalan antar peserta trip. Trip kali ini terdiri dari 17 orang peserta member BPJ dari berbagai RT dan 17 peserta lainnya dari non member BPJ, namun hal tersebut tidak menyulitkan peserta untuk berbaur dan akrab satu sama lain. Pukul 20.00 sesi perkenalan berakhir dan dilanjutkan dengan acara bebas. Ada peserta yang langsung istirahat di kamar dan ada beberapa yang keluar untuk menikmati suasana Dieng di malam hari. Pukul 01.00 dini hari peserta dibangunkan untuk siap-siap menuju basecamp Bukit Sikunir. Pukul 02.00 kami sudah duduk manis di elf dan pukul 02.30 tiba di basecamp Bukit Sikunir.

Pesona Golden Sunrise di Puncak Bukit Sikunir

Bukit Sikunir merupakan spot tepat untuk para pemburu sunrise dan mampu mengobati rindu para pecandu ketinggian. Pemandangan matahari terbit di Bukit Sikunir merupakan salah satu yang terbaik di Jawa Tengah dengan pemandangan langsung ke Gunung Sindoro, Sumbing, Merbabu, Merapi dan Ungaran. Berada di ketinggian 2.300 meter di atas permukaan laut, Bukit Sikunir yang berbalut kabut tipis dengan pancaran sinar matahari dari timur terlihat sangat cantik dan menawan.

Trek menuju Bukit Sikunir pun terbilang mudah karena sudah ada tangga batu yang tersusun walau masih diselingi dengan jalan tanah kering yang berdebu dan trekking menuju puncaknya pun hanya memakan waktu kurang lebih 30 menit. Sebelum menuju puncak, ada pos yang menyediakan toilet umum dan musholla untuk kemudahan para pengunjung menjalankan sholat subuh.

Kami memulai trekking di pukul 02.30 dan tiba di puncak pukul 03.00. Kami mencari tempat untuk duduk dengan posisi terbaik dan mengobrol sambil menunggu matahari terbit. Pukul 05.00 semburat fajar mulai nampak di ufuk timur lalu perlahan-lahan matahari naik ke batas horizon. Dapat menyaksikan keindahan matahari terbit di Bukit Sikunir merupakan suatu berkat dalam hidup.

Pukul 06.00 kami mulai turun kembali menuju basecamp. Banyaknya pengunjung menyebabkan kepadatan dan kemacetan di jalan turun menuju basecamp. Pukul 06.30 sampai pukul 07.00 kami sempatkan sarapan di warung-warung di kaki bukit. Warung-warung ini menyajikan makanan seperti gorengan, lontong, kopi, mie dan lain-lain dengan harga yang amat terjangkau apalagi bagi kami, pengunjung dari Jakarta.

Pukul 07.30 kami sudah duduk kembali di elf yang akan membawa kami kembali ke homestay. Seharusnya kami mengunjung destinasi terakhir yaitu Kawah Sikidang, namun karena faktor kelelahan para peserta memutuskan untuk langsung kembali ke homestay untuk bisa segera bersiap-siap kembali ke Jakarta. Perjalanan pulang dari Dieng pukul 10.30, setelah mampir untuk istirahat dan makan siang di Pekalongan lalu membeli oleh-oleh untuk keluarga dan sahabat yang menanti di Jakarta, kami melanjutkan perjalanan hingga tiba kembali di parkiran RS UKI Cawang pada pukul 22.30.

Author: Emma (Backpacker Jakarta 14)
Editor: @febe_shinta

Tags

admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Instagram : @backpackerjakarta Twitter : @official_bpj Facebook : www.facebook.com/groups/backpackerjakarta Group Wa : 089507622003

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close