Seni & BudayaTradisi daerah

Simak Yuk ! Grebeg Muludan Kasultanan Yogyakarta

        Hello Sobat traveler yang sering rindu sama Kota Yogyakarta…

Seberapa sering kamu berkunjung kesana ??? Seberapa dekat kamu dengan masyarakatnya ?? Dan seberapa jauh kamu mengenal budaya dan tradisinya ??

Iring-iringan gunungan (foto:pengenliburan.com)

Berbicara soal budaya dan tradisi, kamu yang jatuh hati sama kota Yogyakarta pasti tahu dong tentang tradisi Grebeg Muludan. Di Yogyakarta, acara Grebeg sendiri terbagi atas 3 kali dalam kurun waktu satu tahun yaitu Grebeg Mulud, Grebeg Besar dan Grebeg Sawal. Dan kali ini kita akan mengulas tentang Grebeg Mulud yang merupakan rangkaian acara puncak dari prosesi Sekaten.

      Definisi

Grebeg atau garebeg sendiri jika ditelaah berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti ramai atau suara angin. Secara politik grebeg juga menjabarkan gelar sultan yang bersifat kemuslimatan (Ngabdurrahman Sayidin panotogomo Kalifatullah).  Sehingga Grebeg dapat diartikan sebagai serangkaian upacara adat yang dilakukan oleh pihak kraton berupa sedekah gunungan kepada masyarakat sekitar.

Grebeg Muludan sendiri merupakan acara puncak/ penutupan dari ritual sekaten yang digelar pada tanggal 12 Rabiulawal untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad S

Foto: liputan6.com

Owh ya, terdapat beberapa adat yang dilakukan di lingkungan Kraton Yogyakarta sebelum prosesi Grebeg Mulud, antara lain:

1. Upacara Gladi Resik prajurit Kraton oleh Bupati Nayoko Kawedanan Ageng prajurit.

2. Upacara Numplak Wajik sebagai pertanda awal pembuatan gunungan

3. Upacara Miyosipun Hajad Dalem sebagai upacara puncak dengan iring-iringan Gunungan dari Kraton menuju Masjid Besar oleh Kyai Pengulu.

Gunungan (foto: jogjaprov.go.id)

Apa itu Gunungan ?

Gunungan dipercaya memiliki filosofi tersendiri. Biasanya dalam upacara, gunungan berisi hasil bumi berupa sayur-sayuran dan buah-buahan serta jajanan tradisional seperti rengginang, beras ketan dimana semua itu nantinya dibagikan langsung ke masyarakat sebagai simbol atas kemakmuran masyarakat.

Dalam Grebeg Mulud digunakan Gunungan Jaler/ lanang (pria) dan Gunungan Estri/ wadon  (perempuan), Gepak dan Pawuhan. Gunungan tersebut kemudian digiring oleh para abdi dalem yang berpakaian dan berpeci berwarna maroon serta mengenakan batik berwarna biru tua bermotif lingkaran putih bergambar bunga. Mereka berjalan tanpa alas kaki dari Kamandungan menuju Alun-alun Utara tepatnya dihalaman Masjid Gedhe/Agung.

Prajurit yang membawa gunungan (foto: blog.lvacanca.co.id)

Dalam perjalanannya, gunungan dikawal oleh pasukan prajurit Wirabraja yang  bertopi kudhup Turi yang bentuknya unik seperti Cabe merah, dimana ia mengemban tugas sebagai “cucuking laku” sebagai garda terdepan dalam upacara kraton. Lain halnya dengan prosesi serah terima gunungan, yang dikawal oleh prajurit prajurit Bugis berseragam hitam dan prajurit Surakarsa yang berseragam putih.

Keseruan akan mulai muncul tatkala gunungan selesai didoakan. Tradisi yang biasa disebut dengan “Ngrayah” atau rebutan gunungan oleh masyarakat mulai dari yang muda sampai yang  tua turut andil dalam perebutan. Sebab, masyarakat percaya dengan memperoleh bagian dari gunungan tersebut mereka akan memperoleh keberkahan. Bahkan tradisi ngrayah ternyata memiliki filosofi tersendiri yaitu dalam pencapaian tujuan hidup, manusia harus berusaha mengejar tujuannya.Tak ayal setelah pulang dari perayaan ini, bagian gunungan yang diperoleh dari ngrayah tadi ditanam disekitar area lahan perkebunan dengan dalil hasil cocok tanam mereka akan tumbuh subur dan terhindar dari berbagai marabahaya. Unik sekali bukan sobat !!

Tradisi ngrayah (foto: hipwee.com)

Konon, kerajaan juga mengadakan  Grebeg yang dilakukan setiap satu windu sekali alias 8 tahun sekali yang disebut dengan Grebeg Mulud Dal. Grebeg ini lebih fokus kepada tradisi Kejawen sebagai penghormatan kepada Raja-raja terdahulu serta sebagai perwujudan bahwa pada zaman kasultanan Demak masyarakat sudah memeluk agama Islam (ditandai dengan prosesi  penendangan tumpukan batu-bata oleh Sri Sultan di pintu selatan masjid Gedhe) . Gunungan Mulud Dal disebut dengan Gunungan Kutug/ Bromo yang dipuncaknya diberi lubang untuk tempat bara dan kemenyan, pinggirnya dihiasi dengan beragam kue warna-warni dan dialasi dengan kain banung tulak diatas nampan kayu berukuran 2 X 1.5m.

Prajurit wirobrojo (foto: beritadaerah.co.id)

Hmm.. unik dan menarik  sekali ya Sobat traveller, adat dan tradisi di Yogyakarta ini. Jika kamu orang Jawa, jadilah bagian dari orang yang Nguri-nguri dan pecinta budaya Jawa. Kalau bukan kita lantas siapa lagi?! Gimana Guyss… apakah kalian masih penasaran dan tertarik untuk ikut dalam tradisi ngrayah gunungan dan menanamnya di pekarangan rumah ???? (Hehee).

 

 

Sumber Referensi : gudeg.net & wikipedia.org

 

Tags
Show More

Defi Susisusanti

Gadis biasa yang tak punya kelebihan namun punya beragam kegemaran.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *