Sejak kecil, hidup mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang mandiri dan pantang menyerah. Karena itulah aku membiayai hidupku sendiri. Dari sekolah, kuliah, hingga saat ini. Bahkan untuk memiliki barang seperti handphone atau laptop, aku harus menabung terlebih dahulu.
Apakah itu membuatku sedih? Tidak. Justru aku bersyukur. Semua perjuangan itu membentuk diriku menjadi perempuan tangguh yang mampu berdiri di atas kaki sendiri.
Dari Joki Tugas hingga Pendirian PT
Lebih dari 10 tahun lalu, perjalanan bisnisku dimulai dari hal yang sangat sederhana di sekolah. Menjadi “joki” tugas kuliah secara cuma-cuma. Hanya niat tulus ingin membantu teman-teman. Sampai akhirnya, seorang sahabat bernama memberiku hadiah sebuah tas baru sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya menyusun skripsi selama tiga bulan. Saat itulah aku mulai merasakan bagaimana rasanya dihargai secara nyata.
Sejak itu, aku mengerjakan berbagai pekerjaan: membuat surat, dokumen legal, desain, hingga membantu berbagai kebutuhan administrasi orang lain. Semua kulakukan sambil tetap bekerja penuh waktu sebagai Accounting Officer di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.
Apakah aku sudah sukses? Mungkin belum. Tapi aku percaya, setiap langkah kecil yang kita lakukan dengan konsisten akan membawa hasil besar di kemudian hari.
Karier Profesional dan Nilai Kejujuran
Perjalanan profesionalku dimulai di Iris Worldwide, sebuah perusahaan advertising internasional, sebagai Finance Staff (Treasury). Aku menjunjung tinggi kejujuran dalam bekerja. Nilai yang kemudian membawaku dipercaya menjadi Supervisor di perusahaan publik Grahatrans.
Banyak yang bilang aku beruntung karena selalu “mudah” mendapatkan pekerjaan. Tapi sedikit yang tahu bahwa keberuntungan itu datang dari kerja keras, loyalitas tinggi, dan konsistensi menjaga kepercayaan.
Lahirnya PT Ramalia Bintang Samudra
Setelah 10 tahun menjalani berbagai proyek freelance yang seringkali aku sebut bisnis “palugada” (apa lu mau, gua ada) akhirnya pada 7 September 2023, aku mendirikan PT atas namaku sendiri: PT Ramalia Bintang Samudra. Nama “Ramalia” berasal dari namaku, sementara “Bintang” dan “Samudra” menjadi simbol doa—agar usahaku bisa meroket setinggi bintang dan berkembang seluas samudra.
Tanpa diduga, tiga hari setelah berdiri, Smartfast Consulting, nama branding dari perusahaanku mendapatkan kontrak proyek pertamanya: jasa pembuatan legalitas PT dan penyusunan laporan keuangan selama satu tahun. Sejak saat itu, proyek demi proyek mulai berdatangan.
Salah satu proyek besar yang kutangani adalah SRE Project, lembaga bergengsi di bidang energi dan sumber daya alam. Meskipun sempat mengalami kerugian akibat ditipu oleh pihak tertentu, aku menjadikannya pelajaran berharga untuk menjalankan bisnis dengan lebih siap dan hati-hati.
Tak lama berselang, Tuhan membuka jalan lagi: aku dipercaya menangani proyek organizing business trip guru-guru kedinasan dari Papua selama delapan hari di Jakarta dan Bandung. Nilai proyek ini mencapai lebih dari 100 juta rupiah. Prosesnya pun tidak mudah. Aku harus melakukan pendekatan, negosiasi, hingga presentasi di Kementerian Dalam Negeri. Tapi semua itu terbayar lunas dengan hasil dan pengalaman luar biasa.
Menjadi Pusat Ekonomi Kecil bagi Sekitar
Awalnya, Smartfast Consulting fokus pada jasa akuntansi dan konsultasi pajak. Namun, karena kemampuanku yang multitasking, aku membuka layanan lain seperti legalitas usaha, bimbingan skripsi, hingga layanan administrasi umum. Bukan karena tamak, melainkan karena aku ingin menjadi jembatan perputaran ekonomi: dari setiap proyek yang kudapat, aku bisa menyalurkannya ke orang-orang terdekat yang membutuhkan tambahan penghasilan.
Bagiku, tidak ada yang lebih menyenangkan dari hidup yang bisa berguna bagi banyak orang. Bayangkan, berapa banyak yang bisa terbantu jika kita mau saling support?
Stabil secara Finansial Tanpa Bergantung
Kini, aku menjalani dua peran: sebagai karyawan tetap dan sebagai pemilik bisnis. Aku memiliki pemasukan stabil dari pekerjaan utama, dan juga pendapatan dari perusahaanku sendiri. Ini memberiku kestabilan finansial yang sebelumnya hanya bisa aku impikan.
Aku percaya bahwa memberi lebih baik daripada meminta. Aku tidak pernah suka bergantung. Jika aku punya lebih, aku akan berbagi. Jika tidak, aku akan menahan diri. Prinsip ini telah kujaga bertahun-tahun.
Dari Luka Jadi Kekuatan
Dibalik semua ini, ada luka yang tak banyak orang tahu. Aku tidak punya support system, tidak pernah merasakan kehangatan keluarga, bahkan tidak tahu rasanya makan bersama di meja makan. Tapi aku tidak ingin larut dalam kesedihan itu. Aku memilih bangkit.
Tangisku mungkin tidak terdengar. Sakitku mungkin tidak terlihat. Tapi aku berhasil melangkah lagi. Dan hari ini, aku bisa tersenyum bangga karena pencapaianku.
Merintis Mimpi-Mimpi Lain
PT Ramalia Bintang Samudra bukan hanya perusahaan accounting. Aku juga merintis lini usaha Smartravel, layanan private trip yang berangkat dari keinginanku untuk menciptakan perjalanan yang menyenangkan dan terorganisir. Selain itu, aku juga sempat mulai mengembangkan brand parfum unik bernama Semprotin!—nama yang sengaja kupilih agar mudah diingat dan memberi kesan ringan.
Namun, tidak semua orang menyambut idenya dengan baik. Ada sebagian yang meragukan bahkan tidak menyukai langkahku di bidang ini. Untuk sementara, aku memutuskan menunda peluncurannya, bukan karena menyerah, tapi karena aku percaya bahwa setiap ide punya waktunya sendiri untuk diwujudkan. Aku hanya perlu lebih matang dalam strategi dan dukungan yang tepat.
Penutup: Tentang Waktu, Keyakinan, dan Perjalanan yang Belum Usai
Aku belajar bahwa tidak semua hal harus segera jadi, dan tidak semua orang harus suka dengan apa yang kita bangun. Bisnis parfumku, Semprotin!, adalah salah satu contoh. Belum terealisasi, karena sempat ada yang menentangnya. Tapi aku tidak marah, tidak kecewa. Aku hanya percaya: mungkin, belum waktunya.
Setiap ide punya masanya. Dan selama niatku tetap baik, aku yakin waktuku akan datang.
Aku tidak pernah mengklaim diriku telah sukses besar. Tapi hari ini, aku bisa berkata:
Aku bangga telah menjadi perempuan yang mandiri, bebas secara finansial, dan mampu berdiri tanpa bergantung pada siapa pun.
Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri, berlibur dengan jerih payahku sendiri, dan menyembuhkan luka hidup tanpa harus meminta-minta. Dan bagiku, itu lebih dari cukup.
Kini aku ingin menjadi “ibu peri” bagi orang-orang di sekelilingku. Memberi pekerjaan, membuka peluang, menciptakan harapan. Karena aku percaya, hidup yang paling indah adalah hidup yang bermanfaat bagi banyak orang.
Views: 231


