Liputan Trip

Liputan Trip ODT Situ Gunung #5

One’s destination is never a place, but a new way of seeing things - Henry Miller

Suatu tujuan bukanlah sebuah tempat, melainkan cara baru untuk melihat sesuatu. Memang, memiliki tujuan di akhir perjalanan adalah sesuatu yang baik, namun pada akhirnya, yang terpenting adalah proses perjalanan untuk mencapai tujuan tersebut. Mungkin kutipan dari Henry Miller dan Ernest Hemingway tersebut yang kemudian terngiang di benak seluruh peserta pasca trip ini berakhir.

Menikmati perjalanan bersama orang terkasih maupun sahabat, atau bahkan bagaimana trip tersebut dapat memperkenalkan kita pada teman-teman baru, membuka wawasan baru tentang sebuah destinasi, serta mampu mengubah mindset kita akan esensi dari sebuah perjalanan adalah yang terpenting dari sebuah perjalanan, bukan sekedar mencapai tujuan wisatanya saja.

Trip ODT Situ Gunung yang diselenggarakan pada tanggal 3 November 2018 ini dikoordinasikan oleh Zipora Setyati dan Muhammad Yudha dan terdiri atas 29 peserta. Trip ini merupakan trip kelima yang diselenggarakan oleh Backpacker Jakarta, sekaligus juga merupakan trip perdana Backpacker Jakarta yang mengeksplore Suspension Bridge Situ Gunung – jembatan gantung terpanjang se-Indonesia. Adapun besaran share-cost trip ini adalah Rp 184.311,- untuk member BPJ dan Rp 194.311,- untuk non-member. Jumlah tersebut belum termasuk untuk biaya HTM kawasan Situ Gunung sebesar Rp 20.000,-

Zipora Setyati dan Muhammad Yudha

Berkumpul di Sekretariat Backpacker Jakarta yang terletak di Cawang UKI sejak pukul 00.00, kedua CP trip langsung memastikan kehadiran para peserta agar tidak ada yang tertinggal serta melakukan briefing sebelum perjalanan serta dan memulai trip dengan doa agar diberikan kelancaran dan keselamatan selama trip berlangsung. Sekitar pukul 01.00 kami pun berangkat dengan menggunakan sebuah bis kapasitas medium menuju Sukabumi. Perjalanan menuju Situ Gunung ditempuh kurang lebih selama 3 jam dengan sekali pemberhentian di rest area kawasan Ciawi untuk sekedar buang air kecil dan membeli makanan serta minuman.

Kami pun tiba di Kawasan Wisata Situ Gunung pada pukul 04.00 WIB. Peserta pun kemudian berpencar, ada yang beristirahat menunggu Adzan Shubuh berkumandang di Mesjid maupun bersenda gurau sambil makan dan minum di warung. Acara bebas berlangsung hingga pukul 05.30, hingga kedua CP mengumpulkan para peserta untuk mengadakan sesi perkenalan yang dilanjutkan dengan trekking sekitar 1,2 KM menuju Danau Situ Gunung.

Kabut Dingin Danau Situ Gunung

Setelah sekitar 15 menit berjalan menyusuri jalan aspal dari parkiran bus, kami pun tiba di danau bening nan indah dengan latar belakang asri hijau pepohonan dan Gunung Gede-Pangrango yang berdiri dengan gagahnya berselimutkan kabut putih nan dingin menyambut Sang Fajar. Seketika rasa letih pun lenyap menyaksikan lukisan Sang Pencipta tersebut. Situ Gunung memang merupakan sebuah danau yang berada di ketinggian sekitar 850 mdpl, di kaki Gunung Gede-Pangrango dan masih termasuk dalam kompleks Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.

Keindahan alam Situ Gunung terbaik memang dinikmati saat matahari terbit. Namun, meskipun tidak dapat menyaksikan terbitnya Sang Mentari karena cuaca di pagi itu yang memang terhalang oleh awan mendung, kami tetap dapat menikmati pesonanya. Asrinya hutan pinus yang menghijau berbalut selimut kabut tipis di atas danau seluas 6 hektar menjadi keindahan yang tak terlupakan di pagi itu. Kami pun berpencar mencari spot terbaik untuk diabadikan dalam jepretan kamera ponsel maupun kamera DSLR masing-masing. Waktu yang diberikan oleh CP untuk menikmati keindahan alam Situ Gunung adalah hingga pukul 06.30, karena setelah itu kita harus kembali menuju destinasi selanjutnya, yaitu suspension bridge.

Drama ”Nyasar” Berhadiah Curug Cimanaracun

Tepat pukul 06.30 WIB, CP mengajak peserta untuk beralih dari Danau Situ Gunung menuju ke suspension bridge. Perjalanan dilalui dengan menyusuri jalan setapak berbatu di tepi danau. Begitu memasuki persimpangan di pintu keluar danau, terdapat beberapa tukang ojek menawarkan jasanya untuk mengantar peserta menuju suspension bridge dengan jarak sekitar 2,5 KM dan ongkos sebesar Rp. 20.000,- per orang. Kami pun melanjutkan perjalanan mengikuti instruksi CP dengan belok kiri di persimpangan jalan keluar danau tersebut.

Jalan setapak yang kami lalui pun semakin lama semakin menyempit dengan lebar sekitar 1,5 meter yang dikelilingi oleh hutan pinus. Semakin menjauh dari danau, jalan seolah semakin tak terjamah oleh para wisatawan, menjadi jalan tanah basah berlumpur sisa hujan semalam. Di beberapa titik, jalan pun terhalang oleh pohon-pohon yang tumbang sehingga menyulitkan perjalanan kami. Drama mulai muncul ketika dua peserta wanita yang berjalan paling depan terjatuh dan berteriak melihat lintah/pacet disana. Drama pun berlanjut ketika kami bertemu dengan persimpangan. Entah harus berjalan lurus atau belok ke kiri, karena tidak ada petunjuk arah sama sekali disana. Kami pun memilih untuk berjalan lurus, karena logikanya apabila kami belok kiri pasti akan kembali ke danau.

Tak disangka-sangka, perjalanan nyasar ini ternyata mendapat “bonus” satu destinasi tambahan yang tidak tercantum dalam itinerary yang direncanakan sebelumnya, yaitu Curug Cimanaracun. Air terjun dengan ketinggian sekitar 20 meter ini sebenarnya memiliki debit air yang tidak terlalu deras, namun air yang berasal dari Curug Cimanaracun ini merupakan sumber mata air untuk para penduduk Desa Gede-Pangrango dan sekitarnya. Air terjun Cimanaracun ini juga menjadi asal muasal air yang ada di Danau Situ Gunung. Konon, air Curug Cimanaracun juga dipercaya dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit.

Perjalanan kami terhenti sejenak di Curug Cimanaracun, karena peserta yang berjalan lebih dahulu kembali menemui persimpangan jalan dimana tidak ditemui petunjuk arah jalan sama sekali. Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu CP Yudha turun ke bawah untuk bertanya arah jalan kepada penduduk sekitar. Seperti yang telah dikhawatirkan sebelumnya, ternyata jalan yang kami lalui memang tidak menuju ke Suspension Bridge. Jalan yang mengarah ke kiri akan mengitari Danau situ Gunung, sementara jalan yang mengarah ke kanan akan menuju ke lintas Gunung Gede-Pangrango. Kami pun berbalik arah kembali ke lokasi awal dan melanjutkan perjalanan ke arah parkiran bus menuju suspension bridge.

Uji Nyali Menyeberangi Jembatan Gantung Terpanjang Se-Indonesia

Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah tiba di loket gerbang suspension bridge Situ Gunung. Masing-masing peserta diberikan tiket HTM masuk ke Suspension Bridge Situ Gunung seharga Rp 50.000,- per orang (sudah include dalam share cost). Kemudian kami pun melanjutkan perjalanan dari gerbang loket menuju ke jembatan gantung yang berjarak sekitar 700 meter menyusuri jalan setapak. Mendekati jembatan gantung, terdapat amphitheatre dan panggung pertunjukkan dengan tempat duduk dari batang pohon yang didesain melingkar setengah lingkaran. Selain itu juga terdapat café dengan desain yang unik dan instagramable serta fasilitas kamar kecil yang nyaman. Disana, kami menikmati jamuan sederhana nan nikmat berupa  kopi/teh hangat beserta kudapan khas daerah setempat, yaitu pisang dan singkong rebus secara gratis (include HTM tiket). Setelah kenyang, kami pun beranjak menuju pintu gerbang suspension bridge, sekitar 50 meter dari café tersebut.

Situ Gunung Suspension Bridge merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia, yang menghubungkan antara dua bukit sejauh 243 meter dengan lebar 1,8 meter dan melintang di atas ketinggian jurang setinggi 161 meter di atas permukaan tanah. Menjadi tantangan tersendiri bagi orang yang memiliki phobia terhadap ketinggian (acrophobia). Apalagi hembusan kencang angin di tengah jembatan yang membuat jembatan bergoyang di atas ketinggian jurang ratusan meter, tentu menjadi uji nyali sendiri bagi setiap pengunjung yang penasaran terhadap salah satu ikon wisata di Sukabumi yang baru diresmikan bulan Juni 2018 lalu ini.

Meskipun dapat menampung beban hingga 55 ton (sekitar 150 orang), namun jembatan gantung yang menggunakan bahan dasar kayu ulin ini hanya boleh dilintasi oleh maksimal 40 pengunjung saja dalam sekali penyeberangan. Aturan tidak boleh melebihi carrying capacity ini bertujuan selain guna menjamin keamanan dan keselamatan pengunjung, juga bertujuan untuk memberikan kenyamanan pada setiap pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam Situ Gunung melalui jepretan kamera.

Menikmati Kesegaran Curug Sawer

Usai uji nyali di suspension bridge, kami pun melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya, yaitu Curug Sawer. Perjalanan dari suspension bridge menuju Curug Sawer adalah sekitar 500 meter yang ditempuh dalam waktu sekitar 10 menit dengan menuruni anak tangga.

Curug Sawer merupakan air terjun dengan ketinggian sekitar 25 meter yang memiliki debit air sangat deras. Meskipun tampak sangat menyegarkan, namun kami dilarang untuk berenang di kolam bawah Curug Sawer, karena arusnya yang sangat deras dan memiliki kedalaman mencapai 10 meter, sangat berbahaya karena telah menelan banyak korban disana. Meskipun demikian, kami tetap dapat menikmati keindahannya yang menawan serta bermain air di aliran sungai di bawah Curug Sawer. Foto di jembatan Curug Sawer serta di batu-batu besar di aliran sungai dengan latar belakang Curug Sawer sangatlah instagramable dan menjadi kenangan tak terlupakan. Fasilitas toilet serta warung makan disana juga cukup lengkap guna mendukung destinasi ini. Usai puas bermain air, kami pun beristirahat tidur disana sebelum akhirnya CP memanggil peserta untuk kembali ke parkiran bis pada pukul 12.00 guna melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.

Berburu Oleh-Oleh Di Home Industry Mochi Kaswari Lampion

Pukul 13.30 kami melaju meninggalkan Kawasan Situ Gunung menuju Kota Sukabumi untuk berwisata kuliner serta berburu oleh-oleh. Bis diparkir di sebuah toserba di Kota Sukabumi kemudian para peserta dipersilahkan untuk istirahat, sholat dan makan siang di sekitar toserba tersebut hingga pukul 15.30. Kemudian, perjalanan pun dilanjutkan untuk berburu oleh-oleh di kawasan Home Industry Kaswari untuk berburu kue mochi Lampion.

Waktu yang dialokasikan CP untuk berburu oleh-oleh Mochi Lampion itu adalah hingga pukul 17.30. Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan untuk kembali ke Jakarta. Sebelum sampai di Jakarta, kami sempat melipir sejenak untuk kembali berburu oleh-oleh saat mendekati Ciawi selama setengah jam. Pukul 19.30, perjalanan kembali dilanjutkan menuju Sekretariat BPJ. Alhamdulillah, kami tiba di Cawang dengan selamat pada pukul 21.00. Trip ODT Situ Gunung part #5 pun dinyatakan berakhir dan para peserta pun melanjutkan perjalanan kembali menuju rumah masing-masing.

Review Trip

Perjalanan wisata memang tidak hanya semata pada tercapainya tujuan wisata. Namun lebih dari itu, proses perjalanan lah yang memegang penting dalam terciptanya kenangan dalam pengalaman berwisata. Seperti ditunjukkan dalam trip ini, sedikit halangan akibat “tersasar” salah arah menuju lokasi wisata justru malah menjadi kenangan bahagia yang indah tak terlupakan. Bagaimana keseruan ketika menjelajah hutan saat tersasar, seperti menghadapi rintangan pohon tumbang, jalan sempit, licin dan berlumpur, serta saat menemui adanya persimpangan jalan menjadi kenangan indah penuh gelak tawa saat trip ini berakhir. Begitu pula dengan adanya “bonus” trip menemukan Curug Cimanaracun yang konon kesegaran airnya mampu membuat awet muda dan menyembuhkan penyakit. Semuanya menjadi pengalaman istimewa yang tak terlupakan ketika trip ini berakhir.

Oleh : Budi Kristianto
Editor : @febe_shinta
Tags

admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Instagram : @backpackerjakarta Twitter : @official_bpj Facebook : www.facebook.com/groups/backpackerjakarta Group Wa : 089507622003

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close