Home / Blog / Seni & Budaya / Kampung Terapung Suku Bajo, Kabupaten Wakatobi

Kampung Terapung Suku Bajo, Kabupaten Wakatobi

Suku Bajo/Bajau merupakan suku laut, yang menggantungkan hidupnya dari laut dan memiliki kehidupan yang tak pernah jauh dari laut. Banyak orang yang mengatakan bahwa Suku Bajo selalu identik dengan perahu, dan permukiman di atas air laut sebab dahulu mereka hanya tinggal diatas perahu dan berkelana/hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya (seanomedic). Lalu kebiasaan hidup berpindah kemudian tergantikan dengan budaya bermukim menetap dengan membangun rumah diatas laut dangkal.

Terdapat di Desa Bangko, Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Desa ini berada di sebelah barat Pulau Muna, yang secara administratif wilayahnya mencakup daratan dan lautan. Permukiman di Desa Bangko dibangun diatas laut, yang berjarak kurang lebih 600 meter dari mainland (pulau Muna), sehingga nampak seolah-olah sebagai permukiman terapung.

Desa Bangko merupakan tempat dimana kita bisa menyaksikan kehidupan masyarakat adat yang hidup secara tradisional. Sajian pemandangan alam disekitar kawasan Desa Bangko yang indah, juga menambah alasan untuk memasukkan Desa Bangko sebagai salah satu destinasi wisata menarik yang perlu anda kunjungi.

Jumlah penduduk Desa Bangko pada tahun 2010 adalah kurang lebih 1183 jiwa dan terdiri dari 243 KK. Desa Bangko dihuni oleh Suku Bajo, yang telah mengalami pernikahan antar suku dengan Suku Muna dan Suku Bugis, tetapi masih tetap mempertahankan tatanan tradisional Suku Bajo sebagai suku yang dominan. Mata pencaharian utama penduduk Desa Bangko adalah sebagai nelayan dan sebagian kecil lainnya bekerja diluar sektor perikanan yaitu sebagai buruh, pedagang dan tukang kayu, namun sesekali mereka juga melaut untuk mencari ikan. Selain mencari ikan di laut, mereka juga membudidayakan hasil laut yang ada seperti rumput laut, udang dan teripang yang memiliki harga jual yang tinggi.

Untuk menuju ke Desa Bangko, pertama-tama pengunjung harus bertolak dari Kota Raha (ibu kota Kabupaten Muna), menuju Desa Pajala di Kecamatan Maginti. Perjalanan akan menempuh jarak kurang lebih sekitar 70 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh selama 2,5 jam – 3 jam. Lama waktu tempuh ini dipengaruhi oleh kondisi beberapa ruas jalan yang masih dalam kondisi rusak.

Perjalanan ke Desa Pajala perlu menggunakan kendaraan pribadi atau sewa (rental), sebab belum ada kendaraan umum yang melayani rute ini.

Setelah sampai ke Desa Pajala, maka perjalanan kembali dilanjutkan dengan  menggunakan moda transportasi laut seperti speed boat, perahu motor, dan ketinting, dengan jarak tempuh 7 km dan lama tempuh kurang lebih 20 menit dari pelabuhan Desa Pajala. Lama tempuh ini tentu tergantung dari kecepatan mesin perahu motor, keadaan arus laut dan arah angin.

Selanjutnya, untuk masuk Ke Desa Bangko, para pendatang dapat berlabuh di pintu utama yang terdapat di sisi utara permukiman Desa Bangko. Pelabuhan tersebut terletak tepat di depan rumah tokoh masyarakat Suku Bajo Desa Bangko, Haji Baharuddin.

Karena desa ini dibangun diatas laut, setiap rumahnya hanya dihubungkan oleh jembatan kayu titian. Jembatan kayu ini memiliki luas hingga 1,5 meter, yang terbuat dari kayu ulin atau kayu besi. Jembatan titian ini tidak dilengkapi oleh pagar, namun cukup aman untuk dilewati.

Sementara untuk masuk ke rumah atau halaman rumah penduduk, beberapa diantaranya hanya menyediakan sebatang papan kayu sepanjang 2 meter hingga lebih sebagai jembatan, yang cukup kuat untuk dipijaki, namun butuh keberanian untuk mampu melewatinya.

Penduduk Suku Bajo Desa Bangko mendirikan permukiman di atas papan-papan kayu yang ditopang oleh ribuan tiang yang menancap ke dalam dasar laut. Tiang penopang yang tersebut berada pada ketinggian 4 meter (tinggi tiang penopang dari dasar laut hingga ke lantai rumah).

Hingga saat ini belum ada penginapan komersil yang ada di permukiman Suku Bajo di Desa Bangko. Para pengunjung yang datang dan ingin menginap di permukiman ini bisa tinggal di rumah penduduk setempat, dengan fasilitas yang sederhana, seperti tempat tidur kasur atau tikar, bantal/guling, dan kamar mandi/toilet. Menikmati malam di Desa ini sangat menenangkan. Pengunjung akan sesekali dapat merasakan bagaimana tiang rumah yang ditumpangi bergoyang karena hempasan ombak. Tapi semuanya akan aman dan baik-baik saja.

foto : @Cumilebay

Kamar mandi/toilet di permukiman Desa Bangko ini juga sangat sederhana. Untuk mandi, tersedia drum yang berisi air yang diambil dari sungai terdekat, atau dari air hujan. Karena susahnya memperoleh air bersih, selama berada di permukiman ini pengunjung diharapkan untuk menghemat penggunaan air bersih seminimal mungkin.

Nah, buat kalian yang ingin langsung mengunjungi Kampung Terapung Suku Bajo, jangan lupa untuk mengabadikan moment berharga kalian disini yah :)

Referensi by Faisalwikra

About febeshinta

Hi, I'm Febe Sinta Franciska, author of www.febeshinta.com and also www.backpackerjakarta.com; So, please enjoy both of this website with a cup of coffee or tea! Happy reading! Me love you all :)

Check Also

Melihat Kebudayaan Tana Toraja, Kete Kesu Tempatnya

Tana Toraja memang sudah terkenal akan budayanya yang sangat kental. Tak hanya soal budaya, Tana …