GunungQuality TimeUncategorized

Cerita Hororku: Turun Bersama Penghuni Tandikek

Pada 06 Juli 2019, saya bersama rekan-rekan melakukan pendakian ke Gunung Tandikek. Beranggotakan 8 orang, kami berangkat dari Kota Padang sekitar pukul 11 malam menggunakan sepeda motor.

Perjalanan Menuju Posko

Setelah menghabiskan waktu selama 3 jam perjalanan; dengan mengalami berbagai kendala, kami akhirnya sampai di persimpangan menuju pos. Bermodal Google Maps, bang R(anda) mengambil komando. Berulang kali juga tersesat karena lokasi yang diarahkan tidak sesuai. Setelahnya, muncullah inisiatif untuk bertanya pada masyarakat. Namun apa mau dikata, saat itu sudah larut malam. Kami terpaksa berjalan hanya menggunakan insting.

Sebenarnya dari seluruh anggota rombongan, ada bang F(andi) yang pernah mendaki ke Tandikek. Namun waktunya sudah cukup lama; kurang lebih 4 tahun yang lalu. Bermodal ingatan seadanya, beliau mencoba menjadi pengarah jalur yang akan dilewati. 1 jam setelahnya, pos pendakian dapat kami singgahi.

Sembari registrasi, tampak juga beberapa sepeda motor yang terparkir. Artinya, hanya sedikit jumlah pendaki di hari itu. Kami kemudian beristirahat di Mushala hingga pagi menjelang. Bangun, bersih-bersih, masak dan makan, dilanjutkan packing, lalu bergerak ke pos untuk memulai pendakian. Eits… berdo’a dan foto dulu.

Tandikek

Pendakian

Pendakian dimulai sekitar pukul 10 pagi dengan melalui irigasi sawah dan sungai. Setelah 5 jam berlalu, track berubah terjal, hingga akhirnya kami sampai di R26 Tandikek. Menimbang-nimbang keadaan dan waktu saat itu, diputuskanlah untuk camp.

Tenda berdiri, barang sudah tersusun rapi. Dilanjutkan dengan masak dan makan malam. Kegelapan mulai bersekongkol dengan dingin. Jangkrik pun bersahut-sahutan. Suara-suara aneh juga kian terdengar, namun tertutupi oleh kebersamaan; saling bertukar kisah tentang perjalanan yang pernah dilalui. Mari beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk esok.

Baca juga: Cerita Hororku: Setenda Dengan…

Kicauan burung membangunkan kami, tepat di pukul 7 pagi. Semuanya bersiap-siap dan kemudian melanjutkan perjalanan. Kami melewati mata air dan hutan lumut. 2 jam terlampaui, hingga sampai juga di puncak. Sempat juga bertegur sapa dengan rombongan lain; yang ternyata memilih camp di sana dan saat itu sudah ingin turun. Hanya tersisa saya bersama rekan-rekan.

Tandikek

Kabut tebal mulai menyelimuti, sembari kami menikmati logistik yang masih tersedia. Selang beberapa menit, kabut itu hilang berganti pemandangan; hutan asri, kawah kering, dan sebuah goa. Semuanya mengabadikan kebahagiaan, hingga waktu terasa cepat berlalu. Kemudian bergegas turun.

Tandikek

Hal lain

Dan… keanehan mulai terjadi. Terasa ada langkah kaki lain yang selalu mengikuti dari belakang. Hingga sampai di lokasi mata air, saya bersama N(anda) dan N(indi) berhenti untuk gosok gigi dan membasuh muka. Rekan yang tersisa memilih menunggu di lokasi camp awal. Setelahnya, kami bergerak menyusul yang lain. Namun di pertengahan jalan N(indi) meminta untuk berhenti sejenak, dia ingin berteriak melepas rasa penat. Kami pun mempersilahkannya. Namun semakin berteriak, N(indi) tampak bukan seperti dirinya.

Setelah bergabung kembali, salah satu rekan menanyakan siapa yang berteriak tadi. Benar dugaan saya, N(indi) tidak menyadari bahwa dia yang melakukannya. Semenjak itu, fokus kami hanya tertuju padanya.

Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dengan cuaca gerimisnya. Kami turun perlahan dikarenakan kaki N(indi) keseleo di perjalanan sebelumnya. Saya mencoba memapah. Terasa juga pergerakan bang R(anda) yang sering menoleh ke belakang, dan bang F(andi) juga memberi kode seolah ada yang mengikuti.

Tiba di R17, semuanya beristirahat sejenak sembari menunggu Azan Magrib selesai. Setelahnya, berbagai keanehan semakin banyak bermunculan. Sesosok bayangan putih mulai menampakkan wujud di sebelah kanan saya. N(indi) yang dipapah, juga terdengar samar-samar berbicara dan tertawa.

Malam sudah menyapa, namun perjalanan masih tetap diteruskan. Kami kembali menyusuri irigasi, jalanan sudah gelap. Bang R(anda) menerangi jalan dengan senternya. Namun, saat menyorot bagian kanan, sontak semua terkejut. Sosok pocong tampak jelas berdiri. Berulang kali bang R(anda) meneranginya untuk meyakinkan diri. Kali ke 3, bang F(andi) memukul tangan bang R(anda), sebagai tanda jangan disenter lagi. Kejadian itu terjadi sesaat setelah bang R(anda) mencoba menghitung rombongan, namun bertambah 1 orang yang entah siapa.

Hujan semakin deras, N(indi) masih saja seperti tadi. Carrier-ku terasa semakin lama semakin berat, sampai-sampai satu talinya putus. Namun sangat-sangat bersyukur … akhirnya kami tiba di pos pendakian. Perjalanan yang sangat melelahkan dan menggorogoti batin itu selesai juga.

Pulang

Kembali memverifikasi jumlah anggota, kemudian diputuskanlah untuk menginap kembali di Mushala, sebelum esoknya menuju Padang. Semua berbenah dan mengganti baju. Saya mendengar N(indi) berbicara, padahal dia tadinya tampak sedang sendiri.

Setelah diklarifikasi lebih jauh, N(indi) ternyata memang bisa melihat sosok-sosok. Dia menjelaskan bahwa selama turun Tandikek, dia banyak bercerita dengan sosok anak-anak kecil penghuni gunung; yang duduk di carrier saya. Akhir kata, saya ucapkan Alhamdulillah karena kami masih diberi pertolongan oleh Allah dari awal perjalanan hingga akhir.

Tags
Show More

Wina Zulfani

Masalah terbesar kita cuma satu: mati tidak masuk Surga

Related Articles

2 thoughts on “Cerita Hororku: Turun Bersama Penghuni Tandikek”

  1. Keren kak kisahnya, terbawa suasana. Dan gak kebayang jika ada di posisi itu.
    Biasanya cuma baca2 di novel, wattpad, dan film horor. Ini baca kisah nyata langsung.
    Kapan2 kalau ketemu, mau denger ceritanya langsung๐Ÿ˜

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *