Quality TimeUncategorized

Belajar Memaknai Hidup

SAFE 3 ARSA SUMBAR

Waktu itu, tepat sehari sebelum Hari Pahlawan. Ada 20 pemuda-pemudi yang mencoba menjadi pahlawan, setidaknya untuk hidupnya sendiri. Bahwa ia pernah bermakna untuk dirinya dan berbakti untuk bumi pertiwi. Yang sedari kecil, sudah ditanamkan bagaimana berterimakasih pada sebuah perjuangan yang bukan murah harganya.

Bertempat di sebuah Nagari (Desa dalam bahasa Minang) yang tentram, teduh, damai, asri, hijau, dan sehat. Tepatnya di Jorong Taratak Baru Koto Laweh, Kecamatan Lembang Jaya, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kami memulai arti pemaknaan hidup yang sederhana.

Sabtu, 9 November 2019.

Di pagi yang berkabut (memang selalu seperti itu biasanya), kami derapkan langkah kaki untuk menyusuri jalanan desa; yang di dalamnya tersusun niat yang tulus dan harap yang murni.

Berbekal 2 orang tour guide cilik, kami hampiri satu per satu rumah. Memanggil adik-adik; yang sekaligus teman sekolah mereka. Tujuannya tentu untuk berkumpul di sekolah pagi itu. Yap… hari itu bertepatan dengan “Maulid Nabi”, artinya tanggal merah dan sekolah diliburkan. Tentunya ketepatan itu tidak serta merta menyurutkan niat kami, yang sudah menempuh perjalanan 4 jam dari kota Padang. Tidak terlalu lama untuk mengumpulkan para pahlawan cilik ini, kurang dari 2 jam wajah-wajah polos mereka sudah hampir memenuhi lapangan sekolah.

Setelah sesi perkenalan dan pembukaan kegiatan oleh kepala sekolah, kami mulai membagi anak-anak menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok dikelola dengan 2 orang kakak pembimbing, aku salah satunya. Masing-masing kelompok kami namai dengan nama tokoh nasional, yang nanti riwayat para tokoh tersebut akan kami dongengkan. Tujuannya sederhana saja, semoga cerita dan semangat para tokoh tersebut dapat menginspirasi adik-adik ini.

Singkatnya, kita tidak pernah tau “mungkin ada diantara adik-adik ini, yang justru menjadi penolong kita di hari kelak”. Apakah menjadi dokter, polisi, tentara, guru anak-anak kita, atau apapun yang berguna. Maka semakin perlu rasanya kita menebar inspirasi untuk semangat sekolah dan menggapai cita-cita.

Cukup banyak rangkaian program untuk kegiatan yang diikuti kali ini. Berikut beberapa yang diingat:

Temukan Pahlawanmu

Game ini diawali dengan menyembunyikan gulungan kertas yang berisi teka-teki berupa identitas seorang tokoh. Dengan dibantu kakak pembimbing, adik-adik harus dapat memecahkan teka-teki tersebut. Yang mana nantinya akan menjadi nama kelompok dan kakak pembimbing mendongengkan kisah tokohnya.

Puzzle Pancasila

Pada game ini, adik-adik diminta untuk menyusun gambar Garuda Pancasila yang sudah dipotong-potong sebelumnya. Setelah mereka selesai menyusun puzzle ini, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Garuda Pancasila” bersama-sama. Kemudian mereka akan membacakan pancasila, yang dipimpin oleh salah seorang teman di kelompoknya. Kami, sebagai kakak pembimbing bertugas untuk memberikan penjelasan atau menanamkan nilai-nilai pancasila tersebut dalam kehidupan sehari-hari mereka. Seperti dengan sholat 5 waktu, tetap rajin mengaji ke surau (sebutan untuk mushalla), tidak saling mengejek teman, saling berbagi makanan yang dimiliki, dan sebagainya.

Cita-Citaku

Setelah game tersebut, mereka kami minta untuk menuliskan cita-cita dan harapan mereka pada sebuah stiker; yang nantinya akan mereka tempelkan di tempat favorit mereka di rumah. Dengan adanya stiker ini, semoga mereka tetap terfokus dan tetap mengingat apa yang mereka cita-citakan dan mimpikan. Dengan keridhoan ilahi, teriring jualah harapan kami untuk mereka.

Cuci Tanganmu

Kegiatan ke-4 ini kami lakukan dengan demo langsung dan dilaksanakan sambil bernyanyi. Hal yang paling ditanamkan disini, bagaimana mereka menyadari bahwa menjaga kebersihan itu penting. Mungkin yang kami ajarkan hanya mencuci tangan sebelum makan, setelah bermain dan hal-hal lain setelah mereka beraktivitas. Namun perlahan-lahan tanpa disadari, mereka akan menjaga kebersihan dirinya seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak jajan sembarangan, rajin mandi, menjaga kebersihan pakaian, merapikan kamar, memotong kuku, dan sebagainya.

Keseruan ini tidak terasa sudah menyeret kami hingga waktu siang. Untuk sementara kami berpisah dengan permata-permata cilik negeri ini. Satu persatu mereka kami hantarkan ke rumahnya sambil bernyanyi bersama. Sesekali kami iringi dengan bercerita bagaimana indahnya tempat mereka tinggal dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan.

Aaah ya, bertepatan malam ini adalah malam minggu, mereka akan berlatih menari di salah satu rumah warga yang lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap. Selepas shalat berjamaah di Surau, mereka tanpa perintah dan dengan teratur berbondong-bondong berangkat ke tempat mereka berlatih. Beberapa anak dengan sopannya mengundang kami untuk menyaksikan mereka. Lihatlah kepercayaan diri yang baik itu. Bukan hanya karena kelincahan tubuh mungilnya, tapi bagaimanad bangga menarikan tarian tradisional tersebut. Semakin bertambahlah deretan kekaguman kami pada anak-anak ini. Permata negeri yang tidak tergoyah oleh keajaiban era digital, tetap anggun meneruskan tradisi yang masih rapi antara ajaran agama dan budayanya. Sebuah karakter yang tercipta sempurna, sungguh sayang jika semangat sekolah dan cita-cita setinggi langit tidak terlintas dalam benak mereka.

10 November 2019

Hari ini, kabut masih saja usil untuk menghalang-halangi surya melaksanakan tugasnya. Bagaimana dengan dingin? Jangan tanyakan! Sedari kami datang hingga hari ini, tidak pernah absen menusuk kulit kami yang terbiasa dengan udara pesisir pantai. Lalu kami mundur? Ooh tidak kawan, bagaimana bisa mundur setelah kami bergelut dengan wajah-wajah polos dan senyum tulus dari permata-permata itu. Tanpa penjemputan, bel, ataupun peringatan di grup media sosial, mereka hadir tepat waktu di lapangan sekolahnya untuk melaksanakan Upacara Hari Pahlawan. Upacara yang cukup sakral, kami laksanakan dengan khidmat. Kolaborasi  antara kami sebagai kakak pembimbing dengan adik-adik dalam pelaksanaan upacara, semoga semakin menanamkan rasa cinta tanah air.

Mariiii kita lanjutkan gamessssss! Sebelumnya, agar tetap semangat, kita minum susu duluuu…

Game Estafet Air

Game ini sedikit rumit, namun siapa sangka mereka mampu melaksanakannya dengan baik. Adik-adik kami tutup matanya dengan kain, lalu mereka disusun duduk berbanjar. Kemudian mereka akan mengoperkan air dari depan hingga ke belakang, melalui mangkuk-mangkuk yang sudah kami sediakan dalam keadaan mata tertutup. Hanya bermodalkan perintah dari salah seorang teman yang mereka percaya untuk menuntun menyelesaikan tantangan game ini. Game ini bertujuan untuk mengajarkan mereka bekerjasama, saling percaya dan bertanggung jawab.

Sikat Gigi

Sama seperti sebelumnya, kami laksanakan kegiatan ini dengan demo langsung sambil bernyanyi. Masing-masing anak kami bagikan 1 buah sikat dan pasta gigi. Diajarkan bagaimana menyikat gigi yang benar dan sebanyak apa pasta gigi yang mereka butuhkan untuk menyikatkan gigi mereka. Hal yang paling kami tekankan dalam kegiatan ini adalah betapa pentingnya menyikat gigi sebelum tidur dan setelah sarapan pagi untuk kesehatan mereka.

Tanam Pohon

Pada kegiatan ini, masing-masing kelompok diberikan 1 buah pohon yang nanti akan ditanam bersama. Kemudian pohon tersebut dinamai sesuai dengan nama kelompoknya. Pohon ini akan menjadi tanggungj seluruh anggota kelompok untuk merawatnya. Tujuan dari penanaman pohon ini, untuk edukasi kepada adik-adik bahwa mereka juga bertanggung jawab dengan kelestarian lingkungan.

Terakhir, aku bakal tampilkan sesi foto bersama. Sampai bertemu lagi di kegiatan selanjutnya 😎

Note: Terimakasih banyak untuk Nur Hasanah Harahap yang telah banyak membantu dalam proses penulisan cerita ini.

Tags

Wina Zulfani

Tuhanmu adalah seperti apa yang kamu prasangkakan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *