Megibung

Tradisi Megibung di Bali: Makan Bersama yang Menyimpan Makna Kebersamaan

Tradisi megibung di Bali adalah tradisi makan bersama dalam satu wadah yang berasal dari Karangasem dan hingga kini masih dijaga sebagai simbol kebersamaan, kesetaraan, dan rasa syukur. Megibung bukan sekadar cara makan, tetapi bagian dari budaya sosial masyarakat Bali. Saat ini, pengalaman megibung juga dapat dirasakan dalam konteks kuliner budaya, salah satunya melalui Royal Dining Feast di Ankhusa Bali di Ubud.

Mengenal Tradisi Megibung di Bali

Tradisi Megibung di Bali
Tradisi Megibung di Bali – foto kompas

Megibung merupakan tradisi makan bersama dalam satu dulang yang menjadi ciri khas masyarakat Karangasem. Kata megibung berasal dari kata gibung yang berarti aktivitas bersama atau berbagi. Dalam praktiknya, peserta duduk melingkar dan menyantap nasi serta lauk pauk dari wadah yang sama, biasanya dialasi daun pisang.

Satu kelompok megibung umumnya terdiri dari 6 hingga 8 orang, dan maksimal sekitar 10 orang. Tidak ada porsi individu. Semua peserta berbagi dari satu hidangan yang sama, sehingga tercipta interaksi sosial yang erat dan setara.

Sejarah Tradisi Megibung dari Karangasem

Sejarah Tradisi Megibung
Sejarah Tradisi Megibung – foto parikramadewata

Dalam sejarah tradisi megibung, praktik ini berkaitan erat dengan Kerajaan Karangasem. Megibung diperkenalkan sebagai cara membangun solidaritas, khususnya di kalangan prajurit. Sang raja bahkan ikut duduk dan makan bersama pasukannya, sebuah langkah yang pada masanya menghapus sekat hierarki dan memperkuat kebersamaan.

Setelah era kerajaan, tradisi ini tidak hilang. Sebaliknya, megibung menyebar ke masyarakat luas dan menjadi bagian dari berbagai kegiatan adat dan keagamaan di Karangasem, lalu dikenal lebih luas di Bali sebagai simbol kebersamaan kolektif.

Filosofi Megibung

Di balik kesederhanaannya, filosofi megibung menyimpan nilai sosial yang kuat.

Kesetaraan tanpa memandang status

Dalam megibung, tidak ada perbedaan kasta atau status sosial. Semua duduk sejajar dan menikmati makanan dari wadah yang sama.

Kebersamaan dan solidaritas

Makan bersama dalam satu lingkaran menciptakan kedekatan emosional dan memperkuat hubungan sosial antar peserta.

Gotong royong

Megibung dimulai sejak proses memasak yang dilakukan bersama. Nilai kebersamaan sudah dibangun jauh sebelum makanan disajikan.

Rasa syukur dan kesederhanaan

Megibung mengajarkan untuk menghargai makanan apa adanya dan mensyukurinya bersama.

Toleransi dan saling menghormati

Peserta belajar menunggu giliran, tidak serakah, dan menjaga kenyamanan bersama.

Ragam Hidangan dalam Tradisi Megibung

Megibung
Megibung – foto kompas

Hidangan megibung menggunakan bahan lokal dan disajikan secara seimbang. Nasi putih menjadi pusat sajian, dikelilingi lauk dan sayur tradisional.

Lauk pauk khas megibung biasanya terdiri dari:

  1. Lawar, campuran sayur, kelapa, dan daging berbumbu base genep.

  2. Sate lilit, daging cincang berbumbu yang dililitkan pada batang serai.

  3. Ayam betutu atau bebek betutu, dimasak perlahan dengan rempah khas Bali.

  4. Urab, sayuran dengan kelapa parut berbumbu.

  5. Jukut (sayur tradisional) seperti jukut ares.

Sambal, terutama sambal matah, menjadi pelengkap penting yang memberi kesegaran pada hidangan.

Tata Cara Megibung

Tradisi Megibung
Tradisi Megibung – foto wowbali

Meski terlihat santai, tata cara megibung memiliki aturan yang dijaga secara turun-temurun.

Persiapan dan posisi duduk

Peserta duduk bersila melingkar mengelilingi dulang beralas daun pisang. Sebelum makan, biasanya diawali dengan doa sebagai ungkapan syukur.

Etika saat megibung

  1. Mencuci tangan sebelum makan.

  2. Mengambil makanan dari area sendiri, tidak dari depan orang lain.

  3. Mengambil secukupnya dan tidak berlebihan.

  4. Menggunakan tangan kanan saat makan.

  5. Menjaga kebersihan dan sikap selama makan.

Larangan selama megibung

Peserta tidak meninggalkan lingkaran sebelum semua selesai makan dan menjaga suasana tetap tenang serta saling menghormati.

Tujuan dan Nilai Tradisi Megibung

Tujuan tradisi megibung adalah mempererat hubungan sosial dan menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Tradisi ini:

  • Membangun ikatan sosial yang kuat

  • Menghilangkan sekat perbedaan kelas

  • Melatih kesabaran dan tenggang rasa

  • Menanamkan empati sejak dini

  • Melestarikan warisan budaya leluhur

Nilai-nilai tradisi megibung inilah yang membuatnya tetap relevan di tengah kehidupan modern.

Pengalaman Megibung di Masa Kini

Karangasem tetap menjadi pusat tradisi megibung. Namun kini, pengalaman megibung juga dapat dinikmati dalam konteks budaya dan kuliner di berbagai tempat di Bali. Di Ubud, Ankhusa Bali menghadirkan konsep Royal Dining Feast yang menginterpretasikan megibung secara kontekstual dan berakar pada nilai budaya.

Melalui penyajian hidangan tradisional dan penjelasan makna di baliknya, pengalaman megibung di Ankhusa Bali ditempatkan sebagai perayaan kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan budaya Bali, bukan sekadar aktivitas makan bersama.

Views: 46

admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok.

Instagram : @backpackerjakarta
Tiktok : @backpackerjakarta
Twitter : @official_bpj
Facebook : backpackerjakarta
Group Wa : 081237395539

Baca Artikel Lainnya