Seni & BudayaTradisi daerah

Mengenal Asmat, Suku Titisan Dewa di Tanah Papua

Kamu percaya nggak ada suku titisan dewa di Tanah Papua, Indonesia ? Kalau percaya, mari baca artikel ini sampai habis ya. Jangan lupa sediakan secangkir kopi agar kamu tidak kehausan.

Photo by https://zonadamai.com

Mereka disebut Suku Asmat. Salah satu suku yang terbesar di Papua. Dan sampai saat ini masih mempercayai bahwa mereka adalah titisan dewa. Jangan bilang lebay, tapi memang begitulah adanya. Bahkan, hal itu pula yang membuat Suku Asmat memiliki kebudayaan yang sangat dihormati dan dikenal hingga ke mancanegara.

Sumber foto : Galeri Indonesia Kaya

Terus, kok bisa jadi titisan Dewa ?

Jadi gini ceritanya. Konon katanya, jaman dulu ada satu dewa bernama Fumeripitsy yang turun ke bumi dan berpetualang mulai dari ufuk barat matahari terbenam. Dalam petualangannya, Sang Dewa harus berhadapan dengan seekor buaya raksasa hingga akhirnya Sang Dewa menang walaupun dalam keadaan luka parah terdampar di tepi sungai.

Dan disaat itu pula, akhirnya ia bertemu dengan seekor burung Flaminggo yang merawat Sang Dewa hingga pulih dari lukanya. Setelah sembuh, Sang Dewa tinggal di wilayah tersebut dan membuat sebuah rumah serta mengukir dua buah patung yang sangat indah. Ia juga membuat sebuah genderang yang nyaring bunyinya untuk mengiringinya menari tanpa henti. Hingga akhirnya, tak disangka-sangka. Gerakan Sang Dewa yang dahsyat tersebut membuat kedua patung yang diukirnya menjadi hidup dan ikut bergerak mengikuti Sang Dewa. Dan kedua patung tersebut adalah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang suku Asmat.

Keunikannya Semakin Mendunia

Yups, jadi begitulah cerita yang melegenda tentang suku Asmat. Suku yang sangat terkenal dengan tradisi dan keseniannya. Dan dikenal sebagai pengukir handal yang diakui secara internasional. Bagaimana tidak ? Ukiran Asmat sangatlah beragam jenisnya gengs, dan biasanya setiap ukiran bercerita tentang sesuatu. Entah kisah leluhur, kehidupan sehari-hari, dan rasa cinta mereka terhadap alam. That’s why, sampai saat keunikan suku Asmat semakin melegenda dan mendunia.

Pengukir handal adalah Suku Asmat , Photo by Galeri Indonesia Kaya

Dan ternyata gak sampe situ aja. Tetapi, ada juga tradisi lainnya yang sangat menarik. Yaitu rumah Bujang. atau biasa dikenal dengan sebutan Jew. Yups, rumah ini lah bagian penting yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan suku Asmat. Jew menjadi rumah utama tempat mengawali segala kegiatan suku Asmat di tiap desa yang ada. Dan hanya ditinggali oleh pria-pria yang belum menikah.

Ini dia Jew, yang kerap ditinggali oleh pria bujangan. Photo by Galeri Indonesia Kaya

Ohiya balik lagi ke legenda suku Asmat, berawal dari Dewa tersebutlah, menjadikan suku Asmat memiliki banyak kesenian tari dan nyanyian. Biasanya mereka menampilkan tari-tarian dan nyanyian ketika menyambut tamu, masa panen, dan penghormatan kepada roh para leluhur. Yups, mereka sangat menghormati leluhurnya. Walaupun kini kebudayaan modern sudah banyak masuk kedalam kehidupan mereka, namun tradisi dan adat Asmat akan sulit dihilangkan.

Populasi Suku Asmat

Aduh pokoknya panjang deh kalo bahas suku Asmat. Tapi, FYI nih gengs, Suku Asmat sebenernya terbagi menjadi 2 . Yaitu suku yang tinggal di pesisir pantai dan di pedalaman. Yang mana keduanya memiliki pola hidup, cara pikir, struktur sosial, dan keseharian yang berbeda. Wilayah persebaran suku Asmat dimulai dari pesisir pantai laut Arafuru hingga pegunungan Jayawijaya. Secara keseluruhan mereka menempati wilayah kabupaten Asmat yang punya kurang lebih 7 kecamatan.

Photo by Galeri Indonesia Kaya

Dan, kalo soal karakteristik sih samaaaaa lah ya keduanya. Yang mana suku Asmat rata rata memiliki tinggi 172 cm untuk pria, dan 162 cm untuk wanita. Dengan rambut yang hitam dan keriting. Ciri fisik ini disebabkan karena suku Asmat masih satu keturunan dengan warga Polynesia.

Ref : Galeri Indonesia Kaya
Tags

kikyamaleader

Nama saya Rizky Amalia. Seorang Accountant sekaligus Mahasiswi jurusan Hubungan Internasional yang hobby menceritakan indahnya Indonesia melalui goresan pena. Bagiku, menulis adalah cara untuk melukiskan pikiran, perasaan, serta gairah jiwa. Hingga pada akhirnya, tulisan-tulisan itulah yang akan menceritakan kembali siapa aku dan bagaimana aku melintas di bumi ini.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close