Review

Dilan 1990: Apakah Film ini Layak Untuk Ditonton?

“Gue kecewa Dilan di film-in”

“Apalagi pemeran nya Iqbal. Males banget sumpah”

“Sama. Fix Gue ngga akan nonton”

Siapa yang pernah melontarkan kalimat yang sama kaya gitu? Buat sebagian dari kita yang udah ‘terlanjur’ baca novelnya jauh-jauh hari sebelum terdengar hingar-bingar Dilan akan diangkat ke layar lebar, sudah merasa terpuaskan. Gaya bahasa Pidi Baiq yang ringan dan merakyat, serta ide ceritanya yang ‘kita banget’ berhasil bikin gue ketawa-ketawa geli sepanjang baca novel Dilan 1990.

Lalu setelah sekian lama kita berangan-angan akan sosok Dilan, pertengahan tahun 2017 lalu kita semua dikagetkan dengan munculnya thiller Film Dilan 1990. Dan yang tak kalah menggegerkan adalah berita terpilihnya Iqbal dan Vanesha sebagai pemeran utamanya. #FansDilanGarisKeras , begitulah sapaan para penggila novel Dilan, mengaku kecewa akan hal tersebut.

Nah, gimana buat yang belum baca novelnya? Terutama buat orang-orang yang katanya anti nonton film Indonesia, apa film ini tetap layak untuk ditonton? Simak review berikut ya..

Sinopsis

Dilan, seorang remaja kelas 2 SMA ini terkenal bandel. Saking bandelnya di sekolah, ia sudah sering sekali berurusan dengan guru BP. Selain itu, Dilan juga anggota genk motor di Bandung. Ngga tanggung-tanggung posisi dia disana adalah sebagai Panglima Tempur.

Kemudian datanglah Milea. Siswi baru pindahan dari Jakarta. Milea ini cantik dan polos. Ia lantas menjadi primadona di sekolahnya. Karena hal tersebut, banyak yang mengaguminya, termasuk Dilan. Ia pun berusaha mendapatkan hati Milea. Diantara semua pria yang mendekati Milea, Dilan lah yang paling berbeda.

Ia menyamar menjadi peramal. Ramalan nya sungguh ngasal. Dilan juga sering memberikan hadiah-hadiah yang aneh untuk Milea, contohnya saat Milea ulang tahun. Dilan memberikan sebuah buku TTS yang setiap halaman nya sudah Ia isi. Dilan juga pernah masuk ke kelas Milea dan mengikuti pelajaran biologi hanya karena ingin memberikan sebuah surat untuknya.

Kegigihan Dilan ini nampaknya membuat hati Milea luluh. Sikap Milea yang pada awalnya sangat cuek dan jutek pada Dilan lambat laun jadi mencair. Tiap malam, Dilan menelepon Milea untuk membahas hal-hal yang tidak penting. Dan ketika Dilan absen meneleponnya, Milea pun kesepian.

Konflik mulai terasa saat masa lalu Milea datang. Benny, pacar Milea di Jakarta memergoki Milea tengah duduk berdua dengan Nandan, ketua kelas Milea. Benny terbakar api cemburu. Ia pun sontak memukul Nandan. Milea yang berusaha menolong Nandan malah ditampar oleh Benny dan dikatai “pelacur”. Milea sangat sedih. Disitu, Ia sangat membutuhkan sosok Dilan.

Kemudian dari situ, berbagai konflik mulai menghantui hubungan Dilan dan Milea. Mulai dari teman-teman Dilan yang tidak suka melihat kedekatan mereka, sampai Milea yang mulai membatasi keikutsertaan Dilan dengan genk motornya.

Latar

Memilih Bandung sebagai latar dari ceritanya, gue berhasil dibius dengan keindahan Kota Kembang di tahun 1990. Angkot-angkot yang masih berseliweran di jalanan, mobil VW lengkap dengan warna-warna stabilo, telepon koin di ujung jalan,  motor jadul CB 100 yang hits banget pada jaman nya, jaket jins yang selalu dipakai anak-anak SMA tahun 90’an, majalah Tempo yang selalu mejeng di Ruang Tamu, buku tulis yang masih memakai sampul coklat, Poster Ayatullah Khomeini (Imam Besar Iran) yang merupakan salah satu panutan Dilan karena sikapnya yang pemberani dan revolusioner, serta buku-buku karya sastrawan lama seperti Idrus, Sultan Takdir, dan Iwan Simatupang turut mewarnai scene demi scene di film ini.

Beberapa kali, jalan Asia Afrika yang menjadi salah satu ikon kota ini pun ikut dikemas sedemikian rupa agar terlihat ‘jadul’ di mata para penonton. Tak ketinggalan, salah satu SMA favorit yang ada di kawasan Buah Batu juga disulap demi mendapatkan atmosphere tahun 1990.

Sudut Pandang

Seperti apa yang kita baca di novelnya, scene awal dibuka dengan Milea yang sedang mengenang masa lalunya melalui sebuah tulisan. Ya, Milea-lah yang menjadi si pendongeng di film ini. Ia begitu nyata menceritakan kisah kasih SMA nya di Bandung belasan tahun lalu. Kisahnya bersama Dilan. Dilan yang mengajarkannya betapa pentingnya mengucapkan selamat tidur. Dilan yang mengajarkannya bahwa sebuah hubungan haruslah dilandasi rasa saling percaya, saling sayang, dan saling mendukung.

Penokohan

Iqbaal Dhiafakhri yang dari awal muncul ke layar televisi sebagai salah satu member boyband CJR sudah dicap  cute dan lovable oleh masyarakat Indonesia. Kini, Iqbaal diharuskan menjelma menjadi sosok Panglima Tempur. Pada awalnya banyak yang meragukan akting Iqbaal. Tapi setelah menonton film ini, harus gue akui kalau Iqbaal berhasil menjadi Dilan. Ia menghidupkan tokoh Dilan dengan cukup kompeten. Walaupun di scene-scene awal gayanya masih terlihat menggelikan, tapi lama-kelamaan Ia bisa dengan mantap menjadi Dilan seperti yang gue bayangkan 3 tahun lalu ketika awal membaca novelnya. Rayuan-rayuan gombalnya sukses membuat cewe-cewe di bioskop mesam-mesem. Tingkah kocaknya pun sempat bikin Gue cekikikan ngga udah-udah.

Milea yang diperankan oleh Vanesha Priscilla menurut gue udah Milea banget. Cantik, senyumnya manis, ketawanya renyah, dan suaranya empuk. Gue inget banget waktu launching buku kedua, Ayah Pidi Baiq pernah bilang, “Kalau Dilan harus di filmkan saya udah dapet yang bakal jadi Milea. Itu si adiknya Sissy.” Dan benar saja. Sosok Vanesha lah yang hadir sebagai Milea.

Pemilihan tokoh teman-teman Dilan seperti Pian, Anhar, dan Wati adalah muda-mudi bertalenta di bidangnya. Mereka semua bermain sangat apik. Pun untuk Ayah dan Ibu Milea serta Bunda Dilan. Para artis senior yaitu Farhan, Happy Salma, dan Ria Irawan melakonkan perannya masing-masing dengan ciamik.

Penyutradaraan

Adalah Fajar Bustomi yang berhasil meminang Dilan ke layar lebar. Dengan dibantu oleh sang penulis novelnya langsung, Ayah Pidi Baiq, begitulah beliau akrab disapa, cerita film ini ngga melenceng jauh dari buku aslinya.

Yang gue kagum banget adalah ketika adegan baku hantam antara Dilan dan Anhar. Mas Fajar Bustomi berhasil menghidupkan karakter Dilan sang Panglima Tempur. Kemudian kecerdasan beliau yang menghadirkan sosok Ridwan Kamil sebagai cameo dalam film ini patut gue acungi jempol. Bumbu-bumbu lawakan sunda khas anak muda Bandung juga gue rasa sangat masuk di film ini. Dan tentunya, film ini masih kental dengan sejuta rayuan khas nya Dilan seperti apa yang Ayah Pidi tulis di bukunya yang sukses membuat sekawanan remaja Indonesia baper.

Secara keseluruhan rasa kecewa dan  penasaran gue hilang setelah nonton film ini. Awalnya gue ragu untuk nonton karena muda-mudi yang mengambil peran. Tapi dugaan gue meleset. Gue bisa simpulin disini bahwa alur cerita nya terkemas rapi, ceritanya pun hidup, tetapi jika bicara tentang film adaptasi pasti ada saja ketidakpuasan bagi orang-orang yang sudah membaca novelnya. Dan balik lagi masing-masing orang punya selara sendiri.

Berangkat dari novel ataupun film diatas, mungkin beberapa orang yang sudah menonton atau membaca kisahnya yang katanya berdasarkan kisah nyata ini pasti mempunyai imaji tersendiri, baik itu tentang Dilan, ataupun Milea.  Namun bagi gue, kedua sosok tersebut menggambarkan masa lalu bagi beberapa orang. Dan masa lalu memang selalu menyenangkan untuk dikenang.

Daftar gambar : mydirtsheet.com; hype.idntimes.com; http://www.adiraoktaroza.com; http://hai.grid.id; duniacewek.com; liputan6.com; pikiranrakyat.com

Tags

Rahma (@_raahmaaa)

Walk humbly, talk politely, dress neatly, play atrractively.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close