Quality TimeUncategorized

Lombok Punya Cerita (Bagian 2)

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa” ~ Seno Gumira Ajidarma.

Bimbing Aku Dengan Sabar

Ada potret haru yang ku tanggap kali ini. Berlokasi di Kabupaten Lombok Utara, tepatnya Desa Kerujuk. Hal yang dari awal mencuri perhatian, genggaman sang anak yang tak pernah lepas dari ibunya.

Foto oleh:@winazulfani

Setelah diselidiki lebih dalam, ada trauma yang tak berkesudahan. Tak hanya karena gempa yang merobohkan tempat istirahat ternyamannya, tapi juga angin puting beliung yang menghancurkan camp pengungsiannya.

Tampak kaki mungilnya, mencoba mengimbangi langkah sang ibu.
Mungkin karena beban yang dijujung terasa berat, langkah kakipun semakin cepat.

Foto oleh: @winazulfani

Malang nian nasibmu, nak
Hanya Ibu sebagai sandaran
Penabah batin, penghilang resah
“Tenanglah, kita akan baik-baik saja”

Penghilang Lelah

Foto oleh: @winazulfani

Namanya Zidan, berumur lebih kurang 4 tahun. Lihat tingkah konyolnya saat kami datang. Mengikuti ibu-ibu setempat, dengan sigap mengambil barang yang dia inginkan.

Konsentrasiku terpecah. Aku malah terfokus dengan bocah cilik yang tepat berada di depanku. Dan…*cekrek. Beginilah hasil foto bisa ku abadikan. Gaya nyentriknya memikatku. 🀣

Foto oleh: @winazulfani

Mengapa diberi nama begitu? Ya… jelas saja karena ayahnya begitu suka dengan pemain bola satu itu. Memang nama adalah do’a. Saat ditanya cita-cita, sontak Zidan menyebutkan namanya sendiri. Ah, bocah ini sangat menggemaskan. Mungkin maksudnya ingin seperti Zidan. Menjadi pemain bola yang hebat. Semoga terkabulkan.

Kuat Karena Bersama

Kebaikan itu menular. Saat tekad kuat, orang di sekitar dan yang mendapat bantuan juga akan turut mendapat energi kebahagiaan darimu. Akan semakin banyak orang baik, jika kamu bersikap konsisten dengan kebaikanmu.

Ini kami, dengan segala keunikan dan berbagai perbedaan.

Berasal dari berbagai pulau dan suku, kemudian dipertemukan dalam aksi kemanusiaan. Mencoba meringankan beban masyarakat Lombok. Meninggalkan keluarga tersayang dan kesibukan lainnya. Ghiroh membantu bangkit dalam diri. Tak hanya do’a, aksi nyata juga dilakukan.

Foto oleh: @winazulfani

Bertemu, bercanda, bersama; layaknya keluarga. Begitulah indahnya ukhuwah. Menguatkan saat lelah, meneduhkan saat terik, dan mengikhlaskan saat sakit.

Foto oleh: @winazulfani

Bukan pencitraan, tapi memang beginilah potret di lapangan. Berangkat pagi, pulang petang. Tim distribusi bergerak hingga pelosok desa. Panas dan hujan, tak lagi jadi alasan. Semua ikut ambil andil dalam peran. Mulai dari supir, juru foto, rekap data, tukang panggul, hingga penghibur 😁

Terimakasih untuk Timnas Voli Indonesia, yang turut ambil andil menjadi relawan bagi masyarakat Lombok. Ditunggu kedatangan selanjutnya.

Tentang Kehilangan

Tak habis kata jika berbicara kehilangan. Satu persatu kembali ke daerah asalnya. Bertemu di aksi kemanusiaan, berpisah untuk menjalankan rutinitasnya seperti semula.

Mulut terbata, namun rasa menjadi peka. Bahwa inilah ungkapan sayang itu. Merasa hilang saat kepergian.

Foto oleh: @winazulfani

Layaknya keluarga; kesal dan senang itu selalu ada, tapi juga akan terlupakan secepatnya. Terlenyapkan oleh rasa haru dan bangga pernah jadi bagian dan cerita singkat tentang kita.

Pergi Karena Tekad, Pulang Karena Cinta

Jika selalu ada yang datang dan pergi, sekarang saatnya saya untuk kembali. Kepelukan orang tua yang menanti.

Selang waktu 3 minggu berlalu, sudah cukup banyak cerita yang didapat. Lelucon kecil bisa jadi pendobrak semangat saat lelah hadir. Bahkan berbagai ekspresi lucu saat di lapangan, juga jadi bahan tertawaan.

Foto oleh: @winazulfani

Bermunculan sosok baru dalam hidup. Wajar saja, beribu relawan bernaung di lembaga ini.Ada yang belum bersapa, ada yang belum berjumpa, atau bahkan ada yang asing saat mendengar namanya.

Pergi pagi, pulang petang. Panas-panasan bukan jadi halangan. Semua jalan ditempuh tanpa pantang, untuk mencapai titik penyaluran.

Foto oleh: @winazulfani

Kini saya ingin kembali. Berat hati untuk pulang, tapi keluarga tetap jadi prioritas utama. Layaknya memberi, sebaiknya memberi pada kerabat yang membutuhkan. Layaknya membantu, sebaiknya membantu orang yang terdekat.

Raga mungkin tak disana, tapi semangat akan selalu ada. Semoga kita tetap istiqomah dijalan-Nya.

Foto oleh: @winazulfani

Tags

Wina Zulfani

Tuhanmu adalah seperti apa yang kamu prasangkakan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close