Kuliner

Tradisi ‘Makan Bajamba’ Khas Minangkabau

Suku Minangkabau memiliki banyak sekali tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Salah satu tradisi unik tersebut adalah makan bersama atau dalam bahasa Minang “Makan Bajamba”. Tradisi makan bajamba ini biasanya dapat dijumpai pada pesta adat atau pesta baralek.

Mengenai asal-usul makan bajamba berawal dari kebiasaan masyarakat di daerah Agam sekaligus mengamalkan sunnah dari rasulullah SAW, karena cara atau kebiassan yang sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW. Tradisi ini saat ini telah menyebar ke seluruh pelosok Minangkabau.

“Adat Basandi Syarak, Syarak basandi jo Khitabullah” yang dalam bahasa Indonesia artinya Adat Bersendikan Syari’at, Syari”at bersendikan Kitab Allah. Ini merupakan pepatah di adat Minang yang masih terus dijaga. Masyarakat Minang dalam melalui semua aktivitas dan kegiatannya ingin tetap menjaga norma-norma yang berlaku dalam kehidupan adat istiadat Minang. Tradisi makan bajamba ini bukan hanya sekedar makan bersama-sama tetapi juga menggunakan piring yang besar . Ukuran pirinnya berdiameter sekitar setengah meter. Piringnya terbuat dari besi. Orang Minangkabau biasa menyebutnya dengan talam.

Foto : marimembacadotcom

Dalam makan bersama, hal yang perlu diperhatikan adalah, tidak boleh mengambil lauk yang jaraknya jauh dan dahulukan orang tua. Selain itu, dalam makan bersama ini tidak ada tisu atau serbet makan yang disediakan. Selalu hadir daun pisang di acara makan Bajamba. Fungsi dari daun pisang sendiri untuk menghapus lemak yang menempel di tangan dengan cara menyobek daun pisang menjadi lembaran kecil kemudian diremas hingga lemak dan sisa-sisa makanan yang menempel di tangan hilang. Setelah itu barulah cuci atau bilas dengan air.

Lauk yang wajib seperti selada padang, rending, gulai itiak, ayam goreng, ayam patek, perkedal, sayur buncis, juga ayam semur. Semuanya harus ada dan tidak boleh ketinggalan. Yang unik dari Bajamba ini selain aturan makanannya yang tidak dapat ditinggalkan, biasanya makan Bajamba dibuka dengan acara kesenian Minang, kemudian pembacaan ayat suci Al-Qur’an, hingga acara berbalas pantun.

Beberapa adab dalam tradisi ini antara lain adalah seseorang hanya boleh mengambil apa yang ada di hadapannya setelah mendahulukan orang yang lebih tua mengambilnya. Ketika makan, nasi diambil sesuap saja dengan tangan kanan. Setelah ditambah sedikit lauk-pauk, nasi dimasukkan ke mulut dengan cara dilempar dalam jarak yang dekat. Ketika tangan kanan menyuap nasi, tangan kiri telah ada di bawahnya untuk menghindari kemungkinan tercecernya nasi. Jika ada yang tercecer di tangan kiri, harus dipindah ke tangan kanan lalu dimasukkan ke mulut dengan cara yang sama.

Tujuan makan dengan cara tersebut agar nasi yang hedak masuk ke mulut bila tercecer tidak jauh dari piring sehingga yang lain tidak merasa jijik untuk memakan nasi yang ada dalam piring secara bersama-sama. Selain itu, posisi duduk juga harus tegap atau tidak membungkuk dengan cara basimpuah atau dalam bahasa Indonesianya bersimpuh bagi yang perempuan dan baselo atau bersila bagi laki-laki. Setelah selesai, tidak ada lagi nasi yang tersisa di piring, dan makanan yang disediakan wajib dihabiskan.

Seperti inilah salah satu dari tradisi makan yang banyak ditemui di Indonesia. Ketika budaya luar memiliki adat istiadat dalam menyantap hidangan, maka negeri Indonesia pun memiliki keragaman yang patut dijaaga. Jika negara lain mempertahankan adat istiadat tersebut sehingga menjadi sebuah keunikan yang dilirik oleh dunia, mengapa kita juga tidak?

Created by : Berlian Selig

Tags

admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Instagram : @backpackerjakarta Twitter : @official_bpj Facebook : www.facebook.com/groups/backpackerjakarta Group Wa : 089507622003

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *