Gunung

Mengarungi Indahnya Gunung Rinjani Yang Penuh Kasih

Tunggu Aku Kembali Di 3726 MDPL-mu Yang Mengagumkan

3 Mei 2016

Waktu itu aku sedang merencanakan liburan dengan Yudi, kekasihku. Karena bingung mau kemana, dan kebetulan aku suka naik gunung. Ku ajaklah yudi nanjak ke Merbabu atau Semeru. Tapi sayangnya Yudi agak belagu sedikit, dia bilang maunya ke Rinjani. Alhasil, setelah kutimbang-timbang, okelah ke Rinjani. Dan esoknya pun aku langsung membooking tiket pesawat menuju Lombok untuk keberangkatan tanggal 7 Juli 2016.

7 Juli 2016,

Dengan segala persiapan yang matang, dimana semua logistik, perlengkapan mendaki, hingga pengetahuan mengenai akses menuju Rinjani sudah kurasa mencukupi. Akupun berangkat dengan penuh semangat. Wah, rasanya seneng banget bisa melakukan hobby bersama orang yang kusayangi.

Tepat pukul 22.30 WITA, burung besi yang membawaku terbang dari Jakarta pun mendarat dengan cantiknya di Lombok. Dan disitu aku harus benar-benar tega nggak tega dengan para calo yang memaksa untuk menyewa taksinya. Yudi pun langsung inisiatif menghubungi Bang Dani, penduduk lokal yang akan membantu menjadi guide aku dan Yudi selama mendaki. Dan setelah mendapat kabar, kami pun bergegas menuju Mataram untuk beristirahat semalam.

8 Juli 2016,

Start dari Mataram pukul 11.00 WITA, perjalanan pun kulanjutkan menuju Sembalun, jalur masuk sekaligus gerbang menuju Rinjani. Dengan membawa carrier masing-masing, aku dan Yudi pun berjalan cukup jauh untuk menemukan angkot ke Terminal Mandalika.

Sesampainya di Mandalika, aku berganti naik Elf menuju Pasar Aikmal. Nah, dari Pasar Aikmal, aku menyambung menggunakan bak terbuka menuju Desa Sembalun, dan turun tepat di basecamp nya untuk mengurus simaksi.

Base Camp – Pos 1

Waktu semakin sore, dan jam tanganku menunjukkan pukul 16.30 WITA, wah aku kesorean banget. Tapi tak masalah, aku pun segera memulai pendakian bersama Yudi dan Bang Dani dengan penuh semangat. Sesekali aku berlari di hamparan rumput-rumput hijau sambil berselfie ria saking senengnya. Sedangkan Yudi terlihat cukup lelah menggendong carrier berkapasitas 80 liter dipunggungnya.

Setelah melewati hamparan rumput yang terdapat banyak kotoran sapinya, akupun sampai di Pos 1, waktu tempuhnya sekitar 1 jam 30 menit. Karena jalurnya cukup panjang dan harus memasuki hutan tropis hingga menanjak satu bukit yang kondisinya terdiri dari bebatuan. Cantik sekali, aku ada di atas bukit dikelilingi bukit pergasingan yang ada di seberangnya.

Pos 1 – Pos 2

Setelah beristirahat sejenak, perjalanan pun kulanjutkan menuju Pos 2. Kali ini tracknya adalah jalur setapak dengan hamparan ilalang dikanan kirinya. Waktu pun menunjukkan pukul 18.00 WITA, dan aku pun sempat menunaikan sholat Maghrib sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan yang tak kunjung usai. Hari semakin gelap, dan udara mulai terasa dingin. Kurekatkan jaketku sambil berjalan tanpa semangat yang padam. Yudi ada di belakangku, dan di belakangnya lagi ada Bang Dani. Aku berjalan paling depan mengikuti jalur. Tak ada pendaki lain saat itu selain kami bertiga.

Sekitar hampir 2 jam aku berjalan melalui bukit-bukit, aku pun mulai merasa ada yang tidak beres dengan diriku, Bukan karena diganggu “makhluk” lain, karena aku memang sudah terbiasa menanjak di malam hari. Hanya saja kali ini beda, perutku terasa nyeri dan kurasakan ada sesuatu menetes menjalar dikakiku. Sepertinya aku datang bulan. Haaa, rasanya semakin nggak enak dan berhubung aku wanita seorang diri, akupun terpaksa mengatakan kepada Yudi bahwa aku bocor. Tetapi karna jalur pada saat itu masih jalur setapak, akupun terpaksa melanjutkan perjalanan dengan darah bercucuran dan dengan kondisi perut yang amat sakit.

Setelah 1 jam berlalu, alias 3 jam dari Pos 1, akupun sampai di Pos 2. Hem, syukurlah. Aku langsung tepar duduk di atas batu saking nggak kuat nahan nyeri. Yudi dan Bang Dani mendirikan tenda, dan setelah beres semua, aku pun langsung membersihkan diri di dalam tenda dan beristirahat. Sementara Yudi membuatkanku Teh hangat untuk mengurangi rasa sakitku.

Disitu pula tangisku pecah. Saat Yudi memberikanku kebebasan untuk memilih turun dari sini atau tetap lanjut. Wah, pokoknya aku sedih banget saat itu. Aku sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, tapi apalah daya aku merasa tubuhku lemah dan lemas sekali. Sebab aku selalu tak kuasa saat menstruasi melanda. Dengan berat hati, akupun menjawab untuk turun kembali dengan pertimbangan takut menyusahkan Yudi dan Bang Dani. Setelah itu, mataku terpejam dan aku terbawa larut dalam dinginnya Rinjani.

9 Juli 2016

Pagi itu Yudi dan Bang Dani kembali menanyakan pilihanku. Sesekali mereka memotivasiku untuk tetap lanjut mendaki dengan berjalan santai. Suasana hatiku pun lumayan sedikit bersemangat. Yudi tak henti-hentinya menyemangatiku. Yap, disaat inilah aku baru sadar bahwa dirinya sangat memberikan pengaruh besar pada psikis ku. Hingga akhirnya aku mengiyakan dan pendakian ku lanjutkan menuju pos-pos selanjutnya.

Pos 2 – Pos 3 – Bukit Penyesalan

Sembari berberes tenda, aku sesekali mengambil foto dipadang Savana Sembalun yang hijau itu. Yap, Pos 2 memang didominasi oleh track berupa savana dan bukit-bukit hijau. Saat itu tangisku berubah menjadi haru. Setelah semuanya rapi, akupun berjalan pelan menuju Pos 3 yang sebelumnya melewati Pos Bayangan. Anyway, sepanjang jalur itulah Yudi tak ada hentinya memberikan perhatiannya kepadaku. Sesekali membuka kompor untuk membuatkan aku teh dan makanan agar aku tak kehabisan tenaga.

Sesampainya di Pos 3 ditandai dengan adanya sebuah gubuk kecil ditengah dataran. Didepannya menjulang sebuah bukit yang cukup terjal dan sangat menanjak. Yap, itulah bukit penyesalan. Sebelumnya aku pun mempersiapkan tenaga agar bisa kuat melewatinya. Dan setelah siap, akupun menanjak bukit-bukit tersebut dengan kondisi jalur yang cukup curam dan sangat menguras tenaga. Sesekali aku harus dibantu ditarik dari atas oleh pendaki lain. Tapi, tak jarang Yudi menuntunku dengan sabarnya.

Semakin aku tanjaki bukit tersebut, bukannya selesai justru malah tak ada habisnya. Rupanya ada sekitar 7 bukit yang harus aku lewati. Tapi, aku tak ingin hilang semangat, sesekali akupun mengambil gambar dan bercengkrama dengan Yudi dan Bang Dani agar tidak terlalu lelah.

Waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, puncak semakin terlihat. Tapi, aku tak kunjung sampai di Plawangannya. Rasanya aku benar-benar lelah sekali. Bahkan akupun sempat merasa ingin terjatuh kebelakang saat mendaki menuju Plawangan. Syukurlah Yudi mengambil jalan di depanku dan menarikku hingga aku bisa kuat lagi.

Plawangan

Dan sekitar 21.00 WITA, akupun sampai di Plawangan, camp area terakhir sebelum puncak Rinjani. Tanpa berfikir lama, Yudi dan Bang Dani pun segera membuka tenda. Sementara aku terbujur kaku dibawah pohon. Aku merakan angin serasa menusuk tulang-tulangku. Rasanya dingin sekali. Padahal jaketku sudah double. Tetapi aku seperti membeku. Bahkan untuk bicara saja pun tak mampu.

Yudi masih menyiapkan tenda, dan aku sudah lemas tak tau harus melakukan apa. Tak lama kemudian, dia menuntunku masuk kedalam tenda. Akupun terbujur kaku didalamnya tanpa bisa berkata-kata. Disaat itu pula aku melihat dia begitu perhatian dan sangat menyayangiku. Dia membalurkanku minyak kayu putih disekujur tubuhku yang beku hingga akhirnya akupun mampu menggerakkan jariku dan merasa sedikit hangat.

Malam itu, akupun tertidur diantara dinginnya Plawangan. Disamping pria yang kusayangi. Sesekali aku melihat matanya masih terbuka. Yaps, dia menjagaku dari dinginnya malam yang semakin larut. Diluar tenda aku bisa merasakan angin seperti ingin menerbangkan tendaku. Tentu saja karena tendaku sangat ringan. Dimana tenda berkapasitas 5 diisi oleh orang. Dan lama-kelamaan mata itupun tertutup dan larut dalam mimpi.

10 Juli 2016

Suara angin bergemuruh diluar tenda. Bang Dani membangunkan aku dan Yudi untuk segera menanjak ke puncak Rinjani. Tetapi, aku menolaknya. Karena sekujur tubuhku masih lemas dan aku merasa seperti hipotermia lagi. Mungkin karena staminaku kurang cukup lantaran banyak darah yang terbuang selama menstruasi hari pertama ini. Alhasil, akupun melanjutkan istirahatku sambil sesekali mengusap air yang mengalir diujung mata.

Akupun terbangun saat mulai merasa ingin buang air kecil. Disitu aku ditemani Yudi keluar tenda mencari spot untuk buang hajat dibalik-balik semak. Pagi itu masih terasa dingin sekali. Akupun merapatkan tanganku kearah Yudi.

Tapi, pemandangannya. MasyaAllah, ini adalah pemandangan terbaik selama aku mendaki gunung. Seketika moodku kembali membaik. Walaupun tak bisa menuju puncak, tak masalah. Berarti aku memang harus kembali lagi. Toh juga di Plawangan tak kalah cantik.

Akhirnya, akupun menghabiskan pagi itu dengan menikmati Plawangan dan Segara Anak yang ada di hadapanku. Entah apalagi yang harus kuucapkan, rasanya aku sangat berterimakasih telah diizinkan untuk menikmati mahakarya-Nya yang begitu mengagumkan. Hingga akhirnya siang pun tiba dan aku kembali menuruni Rinjani dengan penuh kehati-hatian.

Terimakasih Rinjani, untuk semua yang kau berikan. Untuk semua pesonamu yang luar biasa cantiknya. Tunggu aku kembali ya, untuk menginjakkan kakiku diatas Puncakmu. – Rizky Amalia, yang selalu merindukanmu.

 

Tags

kikyamaleader

Hai! Panggil saja aku Rizky Amalia. Seorang perempuan yang hobby traveling dan hiking, kemudian dengan hati berbunga-bunga selalu bersemangat menceritakan kembali dalam bentuk tulisan agar bisa bermanfaat untuk orang banyak. Anyway, selain aktif menulis di Backpacker Jakarta, aku juga bagian dari Teater Enjuku'18, selain itu pernah menjadi Ketua UKM Seni Budaya STEI '15, Wakil Ketua OSIS SMKN 14, dan bagian dari Paskibra SMKN 14 serta Racata Taekwondo.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *