Liputan TripPantaiPulau

Liputan Trip Explore Flores Sailing Komodo #6 Backpacker Jakarta

Kulabuhkan Hatiku Di Labuan Bajo Yang Mempesona

Surga Itu Di Tanah Flores

Selamat datang di tanah surga. Flores, i’m in love! Begitulah kataku dalam hati. Senang sekali bisa menginjakkan kaki di tanah yang mampu memberikan kedamaian hati dan ketentraman jiwa. Rasanya, aku masih belum percaya pernah mengarungi lautan Flores yang luar biasa indahnya. Terlebih destinasi ini adalah destinasi dambaan hampir semua orang.

Oke gengs, mari dengarkan aku bercerita. Kali ini, Backpacker Jakarta kembali mengadakan Explore Flores Part 6 pada tanggal 28-30 Maret 2018 lalu. Dan, Explore Flores kali ini yaitu masih Sailing Komodo selama 3 hari 2 malam menggunakan kapal LOB ala-ala phinisi gitu. Ohya, buat kamu yang belum tau kapal LOB, LOB adalah Live On Board. Yang artinya selama 3 hari tersebut kita akan tinggal di atas kapal. Baik makan, tidur, maupun aktivitas lainnya. Tak perlu khawatir, sebab kapal LOB menyediakan fasilitas yang tak kalah dengan hotel.

Emye, Solo CP trip Explore Flores Part 6

Anyway, Trip Explore Flores Part 6 dikenakan biaya sharecost sebesar Rp. 1.195.254 untuk member, dan Rp. 1.215.254 untuk non member. Wah, sharecost yang sangat murah ya dibanding open trip. Iyalah! Cuma Backpacker Jakarta yang bisa begini gengs. Ohya, adapun CP atau pemandu trip mevvah ini yaitu jengrengjengjeng! Adalah si hitam manis yang ngehits abis di BPJ, yaitu Emye atau Edi Muhammad Yamin seorang diri yang sekarang perawakannya sudah seperti orang asli Flores.

Hari Pertama, Jatuh Cinta Pada Pandangan Pertama

Perjalanan kali ini dimulai dengan meeting point pada tanggal 28 Maret 2018 Pukul 09.00 WITA di Pelabuhan Tilong, Labuan Bajo. Sesampainya disana, kami langsung menuju ke kapal yang sudah bersandar untuk membawa kami mengelilingi kepulauan Flores. Berjumlah 30 peserta, kami dipecah menjadi 2 rombongan dalam 2 kapal ala-ala phinisi syantik.

Dan setelah sampai di atas kapal, kami pun mengawali perjalanan dengan berdo’a bersama agar trip ini bisa berjalan dengan lancar dan kami dapat kembali kerumah masing-masing dengan selamat sampai tujuan. Usai berdo’a bersama, kami pun langsung memulai pembagian kamar. Dimana masing-masing kapal terdiri dari 3 kamar tidur yang dilengkapi kasur empuk, AC, bantal, selimut, dan juga colokan listrik.

Explore Flores Part 6 (Kapal 2)

Sedangkan di bagian lainnya terdapat 2 toilet ber-Shower, dapur untuk koki memasak, meja dan kursi untuk makan dan nongki asyik. Di bagian tengah juga terdapat kasur busa untuk sekedar tidur-tiduran atau leye-leye sambil nikmatin angin sepoi-sepoi. Dan gak cuma itu gengs, di bagian atas kapal pun terdapat beberapa lazy bag untuk bersantai-santai sambil menikmati segelas jus alpukat sambil makan pisang goreng. Wah, mantaplah pokoknya!

Pulau Kelor Yang Eksotis

Tepat pukul 10.00 WITA, nahkoda membawa kami meluncur ke destinasi pertama yaitu Pulau Kelor yang eksotis abissss. Dalam waktu 30 menit, kapal kami sampai di Pulau Kelor yang menyuguhkan kami pantai perawan berpasir putih, lengkap dengan bukit terjalnya. Tak perlu waktu yang cukup lama, kamipun segera mengambil kamera untuk mengabadikan momen dan juga menanjak bukit terjal tersebut untuk berfoto ria sebelum akhirnya kami kembali ke kapal untuk makan siang sambil melanjutkan sailing ke destinasi berikutnya, yaitu snorkeling di Manjarite.

Foto Bersama Di Pulau Kelor

Manjarite Yang Lenje

Destinasi kedua yaitu Manjarite. Usai menikmati keindahan Pulau Kelor dari atas bukit, kami makan siang mewah diatas kapal. Tepat pukul 13.30 WITA kami sampai di Manjarite. Manjarite sendiri merupakan spot snorkeling kece yang memiliki dermaga membentang sepanjang sekitar 15-20 meter. So, kami langsung saja menceburkan diri untuk bersnorkeling ria, dan beberapa di antara kamipun ada juga yang hanya menghabiskan waktu berjalan-jalan di dermaga. Ohya, di ujung dermaga tersebut juga terdapat pulau tak berpenghuni yang kini sudah dijual ke tangan orang asing. Heem, sayang banget yah.

Dermaga di Manjarite

Mendaki sudah, snorkeling sudah, foto syantik ala-ala di dermaga pun sudah. Sekarang, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Padar. Anyway, untuk menuju ke Pulau Padar dari Manjarite dibutuhkan waktu selama 3 jam. Dan selama itu pula kami dibuat terkagum-kagum atas apa yang kami lihat dan kami rasakan. Yap, sebuah mahakarya Tuhan yang begitu luar biasa. Sepanjang jalan kami dimanjakan pada perbukitan lanskap di kanan-kiri kami. Ditemani sinar mentari dan angin berbisik membuat kami tak bisa memejamkan mata saking indahnya pemandangan yang ada di hadapan kami.

Santai Di Atas Kapal. Photo by Henny Yuliana

Lembayung Merona Mengantar Senja

Tepat pukul 06.00 WITA, akhirnya kami pun sampai di Pulau Padar. Langit yang tadinya cerah kini berubah menjad lembayung merona mengantar senja menyibak tirai malam. Ah, ini dia yang kami cari! Kami pun berlabuh di Pulau Padar dan mengisi waktu dengan makan malam asik sambil bercengkrama, kemudian beristirahat untuk esok paginya melanjutkan tracking ke puncak Pulau Padar.

Lembayung merona

Hari Kedua, Gak Pingin Pulang

Pulau Padar, Iconic-nya Labuan Bajo

Selamat pagi! Ini hari kedua kami sailing. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA, dan kami segera bergegas untuk tracking ke puncak Pulau Padar. Yap, spot kece yang menjadi icon Labuan Bajo ini sukses membuat kami bersemangat untuk mendaki ratusan anak tangga dan bebatuan terjal demi mendapatkan foto syantik dan keindahan yang sempurna. Dan, setelah sekitar 40 menit, kami pun sudah sampai di atas Pulau Padar. Indah sekali, Pulau Padar menyuguhkan kami berupa 4 cekungan lautan biru berpasir putih yang dipadukan bukit hijau yang sangat menawan. Tanpa basa-basi, langsung saja kami mengambil angle terbaik dan berfoto ala-ala.

Pulau Padar yang luar biasa

Komodo Unyu Yang Bikin Jatuh Hati

Setelah puassss menikmati keindahan Pulau Padar, kami kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo sambil menikmati sarapan pagi yang dibuatkan oleh koki terbaik kami. Dan tepat pukul 10.30 WITA, kami telah sampai di Pulau Komodo yang melegenda itu. Anyway, ada rasa dagdigdug dalam hati kami. Mengingat beberapa di antara kami banyak yang sedang berhalangan atau datang bulan. Tapi, demi kecintaan kami terhadap hewan tertua yang berasal dari Australia ini, kami tetap bersemangat mencari komodo di hutan-hutannya.

Pulau Komodo

Btw, sebelumnya kami memecah rombongan menjadi 6 kelompok. Dimana setiap kelompoknya terdiri dari 5 orang dan 1 ranger yang akan membantu menjelajahi habitat komodo-komodo lucu tersebut. Daaaaan, inilah salah satu komodo yang kami temukan. Ohya, di Pulau Komodo ini kami mengambil Short Track. Jadi, jarak tempuhnya hanya 1 km dalam waktu 1 jam selama pulang pergi ke hutan. Dan setelah puas mencari komodo, kami kembali ke kapal untuk melanjutkan sailing lagi ke Pantai Pink atau Pink Beach.

Komodo Unyu Nan Lucu

Pink Beach Yang Syantik

Oke gengs, sekarang kami sudah dalam perjalanan menuju Pink Beach. Tau nggak kenapa dibilang Pantai Pink? Karena memang pasir nya jika dilihat dari dekat memiliki partikel berwarna kepink-pinkan. Hal ini terjadi karena di Pink Beach terdapat banyak banyak plankton dan coral berwarna merah. Dan, setelah hampir 1 jam, akhirnya kamipun sampai di Pink Beach untuk bersnorkeling di air beningnya dan juga menikmati pasir pantainya yang putih bersih dan halus.

Photo by Kaka Nita

Manta(n) Point & Takka Makassar

Waktu menunjukkan pukul 15.30 WITA. Sementara jadwal hari ini sangatlah padat. Karena kami harus mengunjungi Takka Makassar dan Manta Point setelah ini. Akhirnya, dengan berat hati, kami kembali keatas kapal dan melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya yaitu Manta Point terlebih dahulu. Perjalanannya sekitar 30 menit, dan kami telah sampai di Manta Point, yaitu laut yang dipenuhi ikan pari berenang-renang di permukaan. Cantik sekali. Kami menemukan sekitar 5-6 ekor Manta yang sedang berenang cantik. Beberapa diantara kami pun ada juga yang turun kelaut untuk berenang bersama Manta (gak nambah N).

Ikan Pari di Manta Point

Tanpa disadari, kapal kami sudah lama berputar melihat Manta menari-nari. Kamipun harus melanjutkan sailing lagi ke Takka Makassar. Takka Makassar merupakan pulau pasir timbul yang ada ditengah laut. Namun sayangnya, karena kesorean, Takka Makassar sudah hilang tenggelam di bawah laut. But, no problem. Kamipun kembali melanjutkan perjalanan ke Gili Lawa, pulau dimana kapal kami akan bersandar malam ini.

Bersandar Di Gili Lawa

Haiiiii. Akhirnya, waktu menunjukkan pukul 18.00 WITA, dan kami baru saja sampai di Gili Lawa. Sebuah panorama perbukitan hijau menjulang tinggi ditemani terpaan angin yang menggoyang rumput-rumputnya. Haaa, sumpah. Kami jatuh cinta sekali! Dan rencananya besok subuh kami akan tracking syantik ke puncak bukitnya. Sedangkan malam ini kami menghabiskan waktu untuk berquality time mengenal satu sama lain dan pembagian dooprize. Karena, tak kenal maka tak sayang. Jadi, kalau udah kenal barangkali bisa sayang-sayangan.

Puncak Gili Lawa

Hari Ketiga, Masih Belum Mau Pulang

Gili Lawa Yang Mempesona

Langit masih gelap. Tapi, ada bulan dan bintang bertaburan yang menerangi. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WITA, dan kami langsung bersiap-siap untuk tracking ke puncak Gili Lawa. Anyway, untuk mendaki Gili Lawa dibutuhkan waktu tempuh 40-50 menit. Dengan jalur berupa bebatuan dan pasir menanjak nan terjal. Kami pun menyiapkan perbekalan air dan juga cemilan untuk bisa sampai ke puncak. Dan tentunya dilengkapi dengan headlamp atau senter dari handphone.

Sunrise di puncak Gili Lawa. Photo by Timmy Ariefatunnisa

Syukur Alhamdulillah, pukul 05.30 WITA kami sudah berada di puncak Gili Lawa. Cantik, menawan, mempesona, indah sekali. Usai menikmati sunrisenya, kami berjalan menuruni bukit untuk mencapai bukit sebelahnya yang juga didominasi oleh padang savana berpadu dengan balancing rock. Waah, pokoknya dijamin kamu akan jatuh cinta seketika saat melihat hamparan ilalang bergoyang tertiup angin.

Perbukitan lanskap di Gili Lawa

Setelah berfoto cantik ala-ala savana di Sumba, kami terus menuruni bukit. Ohya untuk turun itu kami melalui jalur yang berbeda. Yang mana jalur tersebut menyuguhi pemandangan alam yang luar biasa indahnya. Seperti punggung-punggung bukit yang ditengahnya terdapat jalur setapak, hingga cekungan pantai yang tak kalah indah dari Pulau Padar. Pokoknya, kalau kamu ingin cari yang hijau-hijau lengkap dengan pantainya yang menawan, Gili Lawa lah jawabannya.

Savana Di Gili Lawa Bagaikan Savana Sumba

Menapaki Pasir Putih Pulau Kanawa Yang Lembut

Hem, oke gengs. Kini tibalah kita di penghujung Trip Explore Flores Sailing Komodo Part 6. Kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Kanawa yang letaknya tak jauh dari pelabuhan. Pulau Kanawa sendiri merupakan resort yang tidak terlalu ramai. Kondisinya cukup gersang, tapi lumayanlah untuk snorkling ditemani ikan-ikan nemo lucu nan unyu. Selain itu, juga terdapat dermaga. Walaupun kurang instagenic dibanding dermaga yang ada di Manjarite.

Dermaga di Pulau Kanawa

Ohya gengs, banyak orang yang keliru ketika menyebutkan Pulau Kanawa. Kebanyakan, mereka pikir Pulau Kanawa adalah Pulau Kenawa yang ada di Sumbawa itu. Padahal keduanya jelas berbeda. Pulau Kenawa Sumbawa menyuguhkan bukit eksotis yang dibalut dengan permadani hijau yang menawan. Sedangkan Pulau Kanawa menawarkanmu resort berpasir putih bersih dan air yang jernih.

Om boni bersama ikan-ikan lucu di Kanawa

Baiklah, sekarang waktunya berpisah. Sebenernya kami masih belum ingin pulang, tapi apalah daya. Kami sudah harus kembali ke darat untuk merealisasikan mimpi-mimpi kami yang lain. Terlebih, kulit kami sudah berubah menjadi gosong karena terlalu lama larut dalam kenikmatan Sailing Komodo selama 3 hari. Usai menikmati snorkeling di Kanawa, kamipun kembali ke kapal untuk kembali ke Pelabuhan.

Nyemil cantik di kapal

Ngomong-ngomong, dalam perjalanan pulang kami isi dengan makan siang sebelum akhirnya sampai di Pelabuhan. Terimakasih atas perjalanannya teman-teman, terimakasih juga untuk para ABK yang sudah mengantarkan kami kemanapun. Untuk koki kapal kami yang sudah menyuguhkan aneka hidangan lezat dan nikmat, semua rasanya benar-benar membuat kami tak bisa move on dari indahnya Flores. The last but not least, terimakasih Ka Emye yang sudah menjadi Solo Cp dalam trip ini. Sampai bertemu lagi di Explore Flores Part selanjutnya.

Terimakasih Juga Kepada Para Peserta Trip

Thommy
Ahmad Gozali
Fatimah
Hafni
Tris
Iyan
Susi
Inda
Rini Susanti
Ipit
Icih setiawati
Anne
Henny
Wiwik
Eva
Bonnie
Agung
Fitri
Era
Wilda
Yunita
Dian
Fani
Imelda
Timmy
Rr Yoga Dwasti Kenyo
Fathiyyah Aisha
Rizka
Viona
Kiky

Testimoni

” aku cuma mau bilang, terimakasih sudah menjadi perantara Tuhan yang telah membawaku kesini. Flores adalah destinasi impianku. Dan aku bahagia menginjakkan kaki diatas tanah surganya. ” – Kiky, Jurnalis Backpacker Jakarta
“Aku jatuh cinta sama Labuan Bajo. Orang-orangnya sangat ramah. Pantai,bukit & pemandangannya sangat Indah. Semoga kedepannya Aku dapat berkunjung me beberapa tempat di wilayah Timur Indonesia :) ” – Iyan
” trip flores part 6 dengan bpj seru abis. kita bisa pergi ke destinasi kece dengan biaya murah meriah. biar murmer, selama sailing kita ga pernah kekurangan makanan karena koki kapal rajin bikinin makanan buat kita. abk kapalnya juga ramah & fasilitas di kapal cukup bagus dengan biaya trip yang irit. sailing 3 hari 2 malam terasa menyenangkan. ” – Ghozali
” Dalam trip flores ini saya mendapatkan banyak pengalaman baru, teman baru, senang susah sama-sama, dan terlebih tak mengenal usia . Meski lelah tapi saya puas. Puas batin terobati melihat keindahan alam. Dan senengnya lagi selama sailing saya nemu model-model yang cantik buat di photo. ” – Henny
” Bisa jadi bagian trip flores#6 bareng BPJ rasanya luar biasa banget. Ketemu orang2 baru dan menikmati pesona labuan bajo yg eksotis rasanya amazing banget. Dear labuan bajo, i’ve left my heart here ” – Wilda
Tags

kikyamaleader

Perkenalkan! Aku adalah salah satu dari tetesan benih yang jatuh ke Bumi. Perlahan menjelma menjadi seorang Accounting yang bereinkarnasi menjadi Travel Journalist di Backpacker Jakarta. Dan sekarang tengah asik mengexplore indahnya Indonesia lewat goresan pena. Saat ini sedang mengejar target untuk bisa mendaki seluruh gunung di Tanah Air. Serta sedang bermimpi menapaki gagahnya Carstensz Pyramid, titik tertinggi Tanah Air Indonesia. Aku cinta menulis. Sebagaimana menulis adalah caraku melukiskan pikiran, perasaaan, serta gairah jiwa. Dan tulisan-tulisan itulah yang akan menandakan bahwa aku pernah ada dan melintas di Bumi ini sampai aku menghilang menjadi setitik debu di birunya semesta. Warm Regards, Rizky Amalia | Part of UKM Seni Budaya STEI & Teater Enjuku'18

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *