Home / Editor Picks / Kubbu BPJ dan RS Firdaus Kupas Mitos Fakta Pendakian Gunung

Kubbu BPJ dan RS Firdaus Kupas Mitos Fakta Pendakian Gunung

Diskusi santai yang dihari 75 orang peserta

Tahun 2017 adalah tahun kembalinya saya ke dunia petualang. Yap, setelah sebelumnya mengisi liburan dengan jalan-jalan “cantik”, mulai tahun ini saya mengisi liburan dengan perjalanan yang lumayan membutuhkan banyak persiapan kecuali uang. Nah, pada bulan Januari 2017 saya mulai bergabung di komunitas Backpacker Jakarta atau biasa disingkat menjadi BPJ.

Dalam 7 bulan terakhir, hampir setiap minggu saya mengikuti perjalanan yang cukup menantang dan mengunjungi beberapa lokasi terpencil yang instagramble bahkan memanjakan mata. Nah, sampai pada pada akhirnya saya dipercaya untuk “mengkomandoi” salah satu Klub yang ada di BPJ, yaitu Klub Buku dan Blogger (Kubbu).

Salah satu tujuan dari didirikannya Klub ini adalah untuk memberikan fasilitas alternatif para blogger yang ada di BPJ untuk menulis. Dan kebetulan, Gayung bersambut RS Firdaus Jakarta Utara, mengajak Kubbu untuk mengadakan sebuah acara yang dapat diliput oleh para Blogger yang ada di BPJ pada tanggal 20 Agustus 2017 dengan Tema : “Membongkar Fakta dan Mitos Pendakian Gunung Berdasarkan Pengalaman dan Sudut Pandang Medis”, dan mengundang para nara sumber yang cukup ahli di bidangnya dan mempunyai pengalaman menarik tentang mitos dan fakta pendakian.

Penulis pada saat pembukaan acara dan memperkenalkan kubbu

Diawali dengan fasilitas pemeriksaan darah (gol. darah, gula darah, asam urat) dan tensi darah untuk semua peserta yang hadir, tepat pada pukul jam 13.00 acara inipun dimulai.

RS Firdaus Jakarta Utara

Sesi pertama adalah pengenalan tentang RS Firdaus Jakarta Utara yang dibawakan oleh Dr. Nanisa, Markom yang pada saat acara juga bertindak sebagai Moderator.

Menurut penjelasan Dr. Nanisa, RS Firdaus tidaklah langsung menjadi seperti sekarang ini. Cerita berawal dari tahun 1995, pada saat itu Dr Bahtiar Husein mendirikan sebuah klinik praktek umum. Karena kebutuhan pasien akan pelayanan kesehatan yang semakin berkembang, maka pada tanggal 7 April 1998 beliau mengajak teman-teman dokter umum lainnya untuk membuka praktek dokter bersama dan pada akhirnya dibukalah ”Klinik Firdaus” dengan pelayanan Praktek Dokter Bersama 24 Jam.

Dalam perjalanan dan perkembangan klinik Firdaus, setelah diamati dan dilakukan evaluasi maka diperoleh kesimpulan bahwa pasien terbanyak yang datang berobat adalah pasien yang memiliki keluhan Infeksi saluran napas atas, TBC paru, Pneumonia, Penyakit Paru Obstruksi Khronik, Asma dan Kanker Paru. Berdasarkan fakta dan tuntutan masyarakat akan kebutuhan pelayanan kesehatan khususnya dibidang Paru, maka arah pengembangan pelayanan kesehatan di klinik Firdaus lebih diarahkan ke pelayanan Paru dan menjadikannya sebagai layanan utama dan unggulan. Pada 2011, Klinik Firdaus diresmikan menjadi Rumah Sakit Khusus Paru.

Kemudian, bulan November 2016, RS Khusus Paru ini menjadi Rumah Sakit Umum Firdaus tipe C dengan kapasitas kurang lebih 100 bed dan memiliki visi ‘Melayani dengan hati’ dan fokus dengan menghadirkan 5 pelayanan utama, diantaranya Bedah, Anak, Kandungan, Paru dan Kulit.

Rumah Sakit ini juga melayani BPJS, sesuai dengan jargon mereka yaitu Pelayanan BPJS Terbaik Di Jakarta Utara. Dan dengan acara ini, RS Firdaus berkomitmen untuk ikut memberikan pengetahuan lebih akan kesehatan secara berkesinambungan. Menurut Dr Nanisa, “Fungsi rumah sakit bukan hanya mengobati tapi juga memberikan informasi kesehatan, edukasi kesehatan dan pencegahan penyakit.”

Harley B. Sastha (Penggiat Alam, Penulis dan Pemerhati Konsevasi Alam)

Harley B Sastha (kiri) dengan Penulis (kanan)

Penasaran sekali dengan nara sumber satu ini, sebagai panitia saat menerima pendaftaran dari peserta, banyak yang hadir karena katanya ingin mendengar wejangan dari suhu. Dan benar, lelaki sederhana dan rendah hati ini tampil dengan segudang prestasi dan ide tentang pelestarian alam dan lingkungannya. Tidak hanya mencintai gunung, Harley juga merupakan pejuang pelestarian alam dengan caranya sendiri.

Selain beraktifitas di Federasi Mountaineering Indonesia, Harley sekarang sedang disibukkan dengan tugasnya sebagai Redaksi E-Magazine Mountmag, dan mengerjakan proyek-proyek film pelestarian alam dan lingkungan dalam proyek BARAKA BUMI.

Diskusi kemarin diawali dengan menarik oleh Harley. Ia yang memulai kecintaannya pada alam sejak tahun 1987 ini, menampilkan film tentang Orang Utan di Tanjung Puting. Bukan hanya itu, Orang Utan, sang penjaga hutan, paru-paru bumi, yang mulai punah pun masuk menjadi salah satu film dalam proyeknya di Baraka Bumi.

Harley menekankan bahwa “Hormati dan ikuti aturan serta budaya yang berlaku di setiap detinasi, dan selalu ingat bahwasannya kita adalah tamu”. Dan bukan hanya itu, Ia juga menambahkan, “Kita sebagai pejalan, juga harus merubah mindset kita bahwa perjalanan bukan hanya bicara tentang destinasi, tapi kita harus mulai memahami bahwa di sana ada apa, kita melakukan apa dan ada masalah apa disana”

Nah ini benar sekali, perjalanan bukan hanya tentang bagaimana tujuannya, tetapi seberapa asyik perjalanan tersebut akan kita tempuh. Perjalanan yang ditunggu-tunggu adalah perjalanan yang akan bisa diceritakan kembali dengan sangat antusias, mulai dari kita mandi hendak berangkat, sampai pulang ke rumah dan tiba di tempat tidur. Uhuy..

Lantas, bagaimana dengan mitos atau sisi ‘horor’ di beberapa pendakian? Ada hal-hal yang berkaitan antara mitos, fakta dan medis, sangat tipis antar ketiganya.

Misalnya ada hutan larangan yang melarang kita untuk melakukan ini-itu, dan ternyata itu berkaitan dengan kelestarian kawasan.

Juga dari sisi paramedis, katanya kalau ke Rinjani nggak boleh naik ketika menstruasi. Dari pandangan Harley memang nggak boleh karena emosi wanita yang datang bulan tidak stabil, mudah lelah dan nantinya susah dalam membuang sampah jika mengganti pembalut. Nah, iyakan?

Bahkan menurut Harley, bukan hanya Rinjani, ada di beberapa gunung lainnya pun ada yang melarang. Rinjani hanya salah satu contoh saja. Jadi kalaupun ingin mendaki, tetap boleh saja, asalkan, teman-teman sependakian tahu kondisi temannya yang sedang haid. Dan pembalutnya tidak dibuang sembarangan. Makanya, wanita yang ingin mendaki harus tahu jadwal waktu mereka biasanya “datang bulan”, jadi bisa mempersiapkan dirinya dengan baik dan jangan malu untuk informasikan hal tersebut jika tiba-tiba dalam pendakian “tamunya” datang.

Mitos dan fakta pendakian sebenarnya memiliki pandangan yang masuk akal, namun semua kembali para mindset kita, tapi sebagai orang yang beriman kita wajib percaya akan hal ghaib tersebut.

Tyo Survival (Eks Host Survival, Jejak Petualang, Co-Host Berburu Trans 7)

Tyo Survival (kiri) dengan Penulis (kanan)

Bersama dengan Harley, Tyo juga sedang sibuk mengerjakan proyek Video Pelestarian Alam dan Lingkungan dalam Proyek BARAKA BUMI. Tyo sudah sangat terkenal di mata para pencinta alam, karena selalu wara-wiri di layar kaca sebagai pembawa acara untuk program petualangan. Nggak heran kalau di akhir acara, nara sumber yang satu ini paling banyak diserbu para peserta dan sebagian besar adalah cewek.

Saat memberikan materinya, Tyo nggak sendirian melainkan ditemani oleh temannya, yang dia asuh sejak kecil. Namanya Afri. Dan hmmm…. Afri ini juga pada akhirnya menjadi salah satu idola di akhir acara. Banyak yang minta foto bahkan antri.

Tapi nggak sedikit juga yang lari bahkan takut. Nah lo.. kenapa? Afri ini ternyata sejenis ular, dengan warna belang-belang hitam kuning. Penulis lupa menanyakan jenis ular tersebut.

Afri dibawa oleh Tyo untuk mempraktekkan salah satu mitos bahwa ular takut pada garam. Dan ternyata memang cuma mitos. Saat garam ditaburkan, Afri dengan santainya “berjalan” di atas garam, tanpa takut sedikitpun. Ya, itu cuma mitos. Faktanya, dulu garam dipakai sebagai media untuk berdoa mengusir hewan liar dan buas. Faktanya, yang takut sama permukaan yang kasar seperti garam adalah hewan berlendir. Untuk hewan yang berkulit sensitif seperti ular, takutnya sama ijuk. Dan satu lagi, ternyata ular nggak suka sama wewangian. Jadi kalau nggak mau dideketin ular jangan lupa pakai parfum. Hehehehe..

Tyo Survival dengan Afri (teman ularnya)

Selain itu Tyo juga menekankan tentang pentingnya membawa kantong plastik sampah (trash bag), selain untuk mengangkut kembali sampah yang kita bawa, juga berguna sebagai pelambung (ditiup dan dimasukkan dalam tas), bantal, alas tidur, jas hujan dan juga untuk mengusir binatang buas (ditiup dan dipecahkan, karena binatang buas takut suara letusan).

Pada acara kemarin Tyo juga memberikan contoh tanaman-tanaman yang aman dimakan dalam keadaan darurat di alam, diantaranya adalah Begonia dan Nepentes atau yang sering dikenal dengan Kantung Semar. Dua tumbuhan ini banyak ditemukan di dalam hutan hujan tropis. Dan yang jelas, tumbuhan yang aman dan tidak beracun adalah tumbuhan yang dimakan oleh hewan.

Siti Maryam (Survivor 4 Hari 3 Malam)

Siti Maryam, salah satu anggota Backpacker Jakarta yang beberapa minggu ini viral di media massa. Betapa tidak, peristiwa “hilang”nya Siti sudah menimbulkan banyak polemik dan spekulasi di antara pecinta alam. Hilangnya yang dianggap tidak wajar, tidak heran menimbulkan banyak dugaan dan berita yang tidak benar.

Siti Maryam (tengah)

Kemarin Siti yang datang ditemani oleh Edi M Yamin  (Founder Backpacker Jakarta), hadir untuk menceritakan semuanya dengan gamblang. Tentang bagaimana mungkin dia bisa hilang di siang hari, di jalur yang sangat ramai dan sangat terlihat jelas oleh pandangan mata sejauh beberapa kilometer. Tentang bagaimana dia bisa bertahan hidup selama 4 hari 3 malam tanpa makan dan minum, hanya mengandalkan 2 sachet madu dan 1 buat permen. Hm.. menarik dan seru, kan?

Menurut ceritanya, berawal dari Siti yang selesai dari puncak, dan masih dalam perjalanan turun, enggak kuat ingin buang air besar, ia bergegas mencari tempat yang tertutup dan lari ke depan (jalur pulang) setelah menitipkan barang-barangnya. Teman-temannya pun nggak sempat mencegah karena Siti sudah lari.

Dan pada kenyataannya Siti nggak jadi BAB, Siti justru tersesat ke tempat yang menurut para pendaki gunung sangat tidak mungkin. Siti melihat lapangan rumput hijau yang luas, dan entah kenapa sangat ingin ke tempat itu. Tapi ternyata tempat tersebut dihalangi oleh jurang. Lantas ia mencari jalan pulang sendiri selama 4 hari 3 malam. Banyak pengalaman diluar nalar manusia yang Siti alami, sehingga pada akhirnya Siti bertemu dengan penggembala sapi yang menyelamatkannya.

Apa yang kita dapat dari Siti? Siti tetap tenang dan tetap berpikir logis untuk mencari jalur kembali ke basecamp. Keinginannya untuk tetap survive dan mentalnya yang tangguh akhirnya membuat dirinya selamat dan ditemukan kembali pada keluarga serta temen teman nya.

“Kemauan yang kuat untuk tetap hidup adalah salah satu kemampuan survival sejati”

Ridho Adriansyah (Dokter RS Firdaus)

Dr Ridho Adriansyah

Ridho Adriansyah, salah satu dokter yang berpraktek di RS Firdaus angkat bicara akan banyaknya mitos dan fakta yang kadang ‘aneh’ jika dipikirkan. Semua berawal dari diri sendiri yang kemudian para pendaki berusaha menenggelamkan rasa egois yang mereka miliki untuk menentukan jawaban-jawaban atas pertanyaan tadi. Tapi, dunia medis adalah dunia yang memiliki alasan struktural, dan Dr Ridho Adriansyah juga mengatakan “Tubuh kita memiliki limit, dan masing-masing orang berbeda, jangan dipaksakan”. Jika melihat kasus Siti yang bisa bertahan 4 hari 3 malam tanpa makanan berat, tentu bisa saja, namun pasti ada kerusakan pada organ-orang tubuh tertentu.

Dalam dunia pendakian yang saat ini semakin populer, ada 3 jenis masalah baru yang ditemukan dan sangat mengkhawatirkan, perlu adanya tindakan lanjut, dan tak boleh disepelekan, diantaranya :

  1. Acute Mountain Sickness (AMS)

Terjadi pada ketinggian 3500 MDPL. Oksigen semakin tipis. Secara otomatis dalam waktu 4 jam hingga 1 hari tubuh kita akan terus beradaptasi dengan cara bernafas lebih cepat dan jarang kencing. Jika kita kena AMS akan timbul gejal; sakit kepala, lemas, lelah, kaki dan tangan bengkak. Solusinya minum paracetamol dan istirahat selama 15 menit.

2. High Altitude Cereberal Edema (HACE)

Lanjutan dari yang pertama. Jika dipaksakan, gejalanya lebih berat, otak nya membengkak karena terisi cairan yang kemudian hilang kesadaran.

3. High Altitude Pulmonary Edema (HAPE)

Dan Ini yang paling parah karena paru-paru kita akan langsung terisi cairan karena efek dari HAPE, biasanya terjadi 2-4 hari kemudian setelah terkena AMS/HACE dan bisa mati mendadak!

Seluruh Nara Sumber dan Moderator

Terima Kasih Pendukung Acara

Dan pada akhirnya, acara ini pun berakhir sukses, terbukti dengan banyaknya pertanyaan dan atrian untuk berfoto bersama para nara sumber.

Terima kasih untuk para sponsor, sehingga kami bisa pulang dengan banyak hadiah cantik dan pengalaman yang menarik.

Selain di sponsori oleh Rumah Sakit Firdaus, acara Diskusi Santai ini juga didukung oleh Dhaulagiri dan Ruff. Ruff Outdoor Indonesia adalah salah satu Toko Outdoor dan pemilik produk Dhaulagiri, salah satu merk outdoor equipment di Indonesia. Produknya beragam dan kualitasnya sangat baik dengan menggunakan teknologi terbaik untuk peralatan-peralatan petualangan dan pendakian gunung.

Beberapa produk Dhaulagiri yaitu tenda, kasur dan bantal tiup, headlamp, kursi lipat dan sebagainya. Tenda Dhaulagiri sangat direkomendasikan buat para pendaki, karena memiliki kualitas yang sangat baik.

Infonya bisa kalian cek di instagram @dhaulagiri_outdoor.

Seluruh Peserta di Akhir Acara

Senang menjadi bagian dari acara ini.

Author : @bang.eka.siregar
Editor : @febe_shinta

About admin

Komunitas Backpacker Jakarta adalah sebuah komunitas Travelling yang didirikan pada 5 April 2013 dan berpusat di Jakarta dan sekitaranya (Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok. Instagram : @backpackerjakarta Twitter : @official_bpj Facebook : www.facebook.com/groups/backpackerjakarta Group Wa : 089507622003

Check Also

Menyentuh Terumbu Karang, Kebiasaan Buruk Manusia Jaman Sekarang

Selamat malam, selamat datang di Bulan September. Pembahasan kali ini masih seputar laut, lebih tepatnya …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *