Home / Review / Coming Soon Dan Wajib Nonton! Film “Negeri Dongeng” Ekspedisi 7 Gunung Tertinggi Di Indonesia

Coming Soon Dan Wajib Nonton! Film “Negeri Dongeng” Ekspedisi 7 Gunung Tertinggi Di Indonesia

“Hidup adalah perjalanan, lakukan perjalanan untuk kehidupan”

Bait yang singkat dan sederhana tapi memiliki makna yang sangat mendalam ini saya dapat saat nonton langsung sebelum film ini terbit di bioskop bersama orang-orang penting yang berperan dalam film dokumenter “Negeri Dongeng” Aksa 7, pada hari Minggu, 10 September 2017 di XXI Botani Square, Bogor pukul 18.20 (Studio 1).

Film yang digarap oleh tim Aksa7art, yakni Anggi Frisca (Sutradara), Dr Chandra Sembiring (Produser), Wihana Erlangga, Teguh Rahmadi, Rivan Hanggarai, Jogie KM Nadeak, dan Yohanes Pattiasina ini berhasil menayangkan special screening di beberapa titik seperti; Bogor, Bekasi, Tangerang, Bandung, dan Jakarta.

Nama Aksa 7 ini memiliki arti “melihat dengan mata, merasakan dengan mata hati, dan bergerak dengan mata kaki”.

Negeri Dongeng bukan hanya film yang berkaitan dengan kisah perjalanan fiction atau fairytale, tapi Negeri Dongeng juga bisa masuk dalam kategori nonfiction. Salah satu nya adalah kisah nyata pendakian untuk menggapai 7 puncak tertinggi Indonesia yang dimulai dari Gunung Kerinci (Sumatera), Semeru (Jawa), Rinjani (Nusa Tenggara Barat), Bukitraya (Kalimantan), Latimojong (Sulawesi), Binaiya (Maluku), dan berakhir di Puncak Tertinggi yaitu Gunung Cartenz Pyramid (Papua).

Film dokumenter ini juga mengajak beberapa guest ekspeditor yang turut berperan yaitu Nadine Chandrawinata, Darius Sinathrya, Medina Kamil, Djukardi “Bongkeng” Adriana, Alfira Naftaly “Abex”, dan Matthew Tandioputra (11). Untuk persiapan film nya sendiri dimulai dari bulan Maret 2014 dan berakhir pada bulan Mei 2016 dan untuk proses post production menghabiskan waktu hingga Agustus 2017.

Negeri Dongeng mengajarkan bagaimana sebuah proses itu nyata adanya, tidak ada sesuatu yang langsung instan dan jadi tanpa sebuah perjuangan, sama seperti mendaki gunung. Bukan hanya sekadar berbicara tentang seberapa tinggi mdpl serta puncak gunung dan plang nya, tapi juga tentang perjuangan naik untuk mencapainya dan turun kembali dengan selamat.

Film ini pun menceritakan tentang kisah perjalanan yang penuh dengan problematika perjalanan, ego, dan kerjasama dalam tim. Disamping itu, film ini juga menceritakan tentang potret gaya kehidupan dan keadaan sosial dan ekonomi masyarakat di lokasi tersebut.

“Ada satu kehidupan di daerah yang dimana penduduknya rela membuka pintu masing-masing untuk para tamu atau pendatang. Itu yang tidak terjadi di Jakarta. Dan inilah yang menjadikan orang-orang Jakarta mengenal Indonesia lebih dekat dan merasakan ada satu kehidupan yang lain di luar sana,” tuturnya.

Banyak hal yang Saya tangkap dari film yang berdurasi 90 menit ini yakni dimana kita mau mengurangi sampah, bahkan tidak mau membuang sampah sembarangan, tapi disamping itu kita juga membawa sampah. Disatu sisi lain dikehidupan sosial “dulu tidak ada uang kita bisa hidup, tapi sekarang tidak ada uang bisa kelaparan bahkan tidak bisa hidup”, hingga bagaimana kita mengejar mimpi dan belajar mencintai negeri sampai menghargai setiap proses perjalanan yang begitu sulit untuk menancapkan bendera merah putih di pelosok negeri, dan juga bagaimana kita menggapai cita-cita.

Penulis dan Anggi Frisca (Sutradara)

Disesi acara terakhir, saya dan semua penonton diberi kesempatan untuk mengibarkan Bendera Merah Putih sambil menyanyikan Indonesia Raya sebagai tanda kami mencintai negeri hingga kepelosoknya.

“Wahai pendaki-pendaki pilihan, hembuskanlah semangat pendakianmu. Torehkanlah pada birunya hati, lalu pancangkan merah putih dan kibarkan ke seluruh penjuru pelosok negeri. Berdirilah tegas di puncak tujuanmu” -Djukardi “Bongkeng” Adriana-

Referensi Artikel by http://www.febeshinta.com

About febeshinta

Instagram : @febe_shinta

Check Also

Review Hotel Best Western Premier Solo Baru

Hotel Best Western Premier Solo Baru menempati sebuah gedung yang saat ini menjadi bangunan tertinggi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *